< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Download Baca Plus dan menangkan hadiah!
closeDownload
share icon

Taman Api Penyair Peru Blanca Varela

mediaindonesia

Ilustrasi: Municipalidad de Lima 

PENCAPAIAN karya puitis demi kesempurnaan, perubahan sebagai semboyan untuk konsistensi, dan penjelajah alam bawah sadar sebagai kekuatan. Tiga unsur ini sangat tepat dialamatkan kepada puisi-puisi Blanca Varela. 

Adalah seorang penyair terkemuka Peru, pendamping generasi Javier Sologuren, Sebastian Salazar Bondy, dan Jorge Eduardo Eielson. Tema utama puisi-puisi Varela mengupas tentang pencarian keseimbangan antara kehidupan dan kematian. 

Varela menemukan identitasnya dari kerumitan hidup dan membangun dunianya sendiri secara cermat. Ia menghadirkan bahasa puitis yang dekat dengan kehidupan sehari-harinya. Oleh karena itu, seringkali ia mengusung tema lingkungan, perselisihan rumah tangga, dan kesepian. 

Varela lahir di Lima pada 1926. Ia menulis puisi pendek dengan perspektif yang sesungguhnya melampaui kesepian eksistensial dalam kata-kata. Itu dituangkannya lewat puisi berjudul Epitafio. Varela tidak mampu menjalani beratnya keheningan sehingga bernyanyi menjadi pilihan. Berikut sebuah puisinya. 

Epitafio 

Esto es hoy,

algo perdido.

Brilla el césped.

Cae una hoja

y es como la señal esperada

para que vuelvas de la muerte

y cruces con resplandor

y silencio de estrella

mi memoria.

Artinya; 

Epitaf 

Ini hari di sini, 

sesuatu hilang sudah. 

Seberkas cahaya di rerumputan. 

Sehelai dedaunan luruh perlahan 

seperti seutas sinyal pengharapan

bagimu untuk kembali dari kematian 

cahaya salib dan bintang bertaburan   

merasuki ingatan-ingatan ini. 

Varela menyusun puisi pertamanya pada usia 19 tahun saat belajar sastra dan pedagogi di Universidad Nacional Mayor de San Marcos. Ia hidup dalam lingkaran teman-temannya termasuk penulis muda dan perwakilan intelektual Peru. 

Ada esais, penyair, dan jurnalis Sebastian Salazar Bondi, penulis dan penyair Javier Sologuren, penyair Jorge Eduardo Eielson, dan seniman Fernando de Gizhlot, yang kemudian menjadi suaminya kelak¹

Pengaruh surealisme Paris 

Pada 1947, setelah lulus dari universitas, Varela mulai bekerja di majalah Las Moradas di Lima. Ia juga menerbitkan puisi-puisinya di dua surat kabar lokal berbahasa Spanyol, La Prensa dan La Nacion. Pada 1949, setelah menikah dengan de Gizhlot, mereka pindah ke Paris, Prancis. 

Mereka bertemu dengan pengamat sastra Octavio Paz. Kedekatan ini akhirnya membuat Paz memperkenalkan pasangan muda tersebut kepada sederet penulis ternama setempat, yaitu Andre Breton, Jean-Paul Sartre, Simone de Beauvoir, Henri Michaud, Fernand Leger, dan Alberto Giacometti. 

Di Paris, Varela berkelana ke dunia kaum surealis.  

Atas kritik dan saran Paz, Valera pun mendapatkan energi positif dan menerbitkan buku kumpulan puisi pertamanya, Pelabuhan Itu Ada (Ese puerto existe, 1959). Dalam buku tersebut, Varela menyajikan pengaruh surealisme dan aliran puisi Andalusia yang diusung oleh Federico Garcia Lorca, Luis Cernuda, dan Vicente Aleisandre yang ada dalam karyanya²

Paz tidak meragukan orisinalitas karya Ese puerto existe. Ia mencatat identitas gender pahlawan liris sebagai salah satu ciri dalam puisi-puisi Varela. Setelah lima tahun tinggal di Paris, Varela dan suaminya memutuskan pindah ke Amerika Serikat. 

Di ‘Negeri Paman Sam’, mereka tinggal di Florence selama satu tahun. Lalu ke Washington dan New York, yang dikaitkan dengan kegiatan artistik suaminya. Di Washington, mereka menghabiskan waktu bekerja selama dua tahun. 

Varela menulis puisi dan artikel untuk majalah sastra serta menerjemahkan karya-karya penyair Eropa abad ke-19. Karya-karya di periode ini dimasukkan ke dalam buku kumpulan puisi keduanya Daylight (Luz de día). Penerbitan barulah dilakukan setahun kemudian setelah kembali ke Peru pada 1963. 

Dari pernikahan Varela dan de Gizhlot, mereka memiliki dua putra bernama Vicente dan Lorenzo. Rumah mereka selalu menjadi daya tarik bagi kaum intelektual lokal. Sederet nama yang sering bertamu ialah Mario Vargas Llosa, Emilio Westfalen, Jose Maria Arguedas, dan Juan Rulfo. Kadang-kadang, juga dikunjungi Julio Cortazar dan Pablo Neruda. 

Dalam suasana tersebut, Varela sangat produktif. Ia menghasilkan sejumlah buku, yaitu Waltz dan Pengakuan Palsu Lainnya (Valses y otras falsasconfiones, 1971), Nyanyian Penjahat (Canto villano, 1978), dan Materi Pelatihan (Ejercicios materiales, 1978). Setelah istirahat panjang, ia melanjutkan kepenyairannya dengan menerbitkan antologinya Buku Tanah Liat (El libro de barro, 1993). 

Dalam puisi-puisi periode ini, motif keibuan Varela muncul. Hubungan dengan anak-anak menjauh. Itu terjadi saat mereka tumbuh dewasa. Pada saat yang sama, muncul pula tema ketidakberdayaan manusia dalam menghadapi kehidupan semu. Tumbuh sikap hina di hadapan Tuhan dan hidup berserah atas kasih karunia-Nya³

Puisi duka 

Pada 1996, Varela mengalami duka mendalam atas kematian putra bungsunya Lorenzo dalam sebuah kecelakaan pesawat. Masa kekelaman tersebut meninggalkan jejak ‘taman api’ yang begitu menyedihkan. Puisi-puisi duka terangkum dalam buku Konser Binatang (Concierto animal, 1999). 

Sebagian karya lainnya juga termaktub pada buku lanjutannya berjudul Keyboard El Faalso (El faalso teclado, 2001). Tema-tema kesuraman dan kegelapan kian menghantuinya, namun menjadikan ia lebih berbobot menulis. 

Peristiwa demi peristiwa membuat karya Varela di tahun-tahun terakhir lebih kontemplatif. Tema puisi pada akhirnya mengusung keheningan. Varela meninggal pada 2009 setelah lama menderita pendarahan otak. Penyakit tersebut membuatnya tidak dapat menulis atau berbicara selama lebih dari dua tahun. 

Sudah banyak pihak yang menerbitkan kembali koleksi puisi-puisi Varela, seperti Jalan Menuju Babel (Camino a Babel, 1986) dan Di Saat Semuanya Berakhir, Bukalah Sayapmu (Donde todo termina abre las alas, 2001).

Puisi-puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa dan Rusia. 

Atas totalitas dalam dunia perpuisian, Varela menerima sederet penghargaan bergengsi. Sebut saja, Reina Sofía Prize for Ibero-American Poetry (2007), Federico García Lorca International Poetry Prize (2006), dan Premio Octavio Paz de Poes Orosa y Ensayo (2001). 

Varela pun dianggap sebagai penyair Peru paling terkemuka di abad ke-20. Ia bagian dari Angkatan 50 Peru dan banyak berkontribusi dalam zaman keemasan baru dalam perpuisian di sana. Varela tumbuh, berbuah, dan harum bersama orang-orang dalam lingkaran intelektual. (SK-1) 

Bacaan rujukan: 

¹ Podesta, C. Blanca Varela: poeta de la generacion del 50. Peru: Municipalidad de Lima, 2018, hlm 34, 38, 39. 

² Varela, B. Selection and introductory note by Perla Schwartz and José Luis Sierra. Mexico: Universidad Nacional Autonoma de Mexico, 2012. 

³ Varela, B. The Blinding Star: Selected Poems. Translated by Lisa Allen Ortiz and Sara Daniele Rivera. Flagstaff, Arizona: Tolsun Books, 2021. 

Iwan Jaconiah adalah penyair, editor puisi Media Indonesia, dan penulis buku Hoi!, sebuah kumpulan puisi tentang kisah diaspora Indonesia di Rusia.

LIHAT SUMBER DOWNLOAD BACA PLUS, ADA HADIAHNYA!