< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Download Baca Plus dan menangkan hadiah!
closeDownload
share icon

Hanya Perlu Satu Pertanyaan Ini untuk Mengidentifikasi Orang Narsis

Womantalk

Bagaimana Anda mengetahui jika seseorang memiliki kecenderungan perilaku narsis? Rupanya bukan dari seberapa sering seseorang mengunggah foto selfie di media sosial.

Sekelompok peneliti dari Ohio State University menemukan cara jitu untuk mengidentifikasi pengidap narsisisme. Caranya, hanya dengan satu pertanyaan. Dalam 11 eksperimen yang melibatkan lebih dari 2.200 sukarelawan di berbagai lapisan usia, para peneliti mengajukan satu pertanyaan untuk mengetahui kecenderungan narsisisme.

 

Pertanyaan ini sederhana saja, seberapa setujukah Anda dengan pernyataan, "Saya orang narsis"?, dengan catatan, istilah narsis di sini merujuk pada perilaku egois, mementingkan diri sendiri, dan angkuh. Sukarelawan diminta untuk menilai tingkat narsis diri sendiri, mulai dari 1 yang berarti "tidak sesuai dengan saya" sampai 7 yang berarti "sangat sesuai dengan saya".

Dilansir laman Psych Central, hasil eksperimen ini hampir senada dengan berbagai alat ukur narsisisme valid, termasuk yang paling banyak digunakan, yakni Narcissistic Personality Inventory (NPI). Perbedaannya, NPI berisi 40 pertanyaan, sedangkan eksperimen yang diberi nama Single Item Narcissism Scale (SINS) ini hanya memiliki satu pertanyaan saja.

Lalu, apa makna dari satu pertanyaan sederhana ini? "Orang-orang yang mau mengakui bahwa mereka lebih narsis dari orang lain kemungkinan besar mereka memang benar-benar narsis," ungkap Brad Bushman, profesor di bidang komunikasi dan psikologi di Ohio State University, yang juga salah satu anggota tim penelitian yang dipublikasikan di jurnal PLOS One itu.

"Orang narsis seringkali bangga akan fakta bahwa mereka narsis. Mereka tidak menganggap sifat narsis sebagai sesuatu yang negatif. Mereka percaya bahwa mereka superior dan bangga mengakuinya," sambung Bushman.

 

Sara Konrath, anggota tim peneliti dari Indiana University Lilly Family School of Philanthropy mengungkapkan, dalam memahami isu ini tidak sekedar menyelami perilaku si narsis saja, tetapi juga efeknya terhadap lingkungan di sekitarnya.

"Misalnya, orang narsis cenderung memiliki empati yang rendah. Sedangkan empati merupakan salah satu kunci sifat gemar beramal dan membantu, seperti mendonasikan uang atau ikut dalam kegiatan sukarela di yayasan amal," papar Konrath.

(Sumber cover: Ask Fitness Coach)

LIHAT SUMBER DOWNLOAD BACA PLUS, ADA HADIAHNYA!

Komentar Teratas

Kunjungi app