< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Download Baca Plus dan menangkan hadiah!
closeDownload
share icon

Selama Pandemi, Tren Penyelundupan Narkoba Lewat Jalur Laut Meningkat

Valid News

JAKARTA - Pengamat pertahanan dari Universitas Paramadina Anton Aliabbas mengatakan, terjadi tren penyelundupan narkotika dari luar negeri ke Indonesia melalui jalur laut. Peningkatan ini terlihat sejak terjadinya pandemi covid-19.

"Di era pandemi terlihat ada tren menggunakan jalur laut. Memanfaatkan lalu lintas kargo internasional, hanya dua persen pengawasan efektif dilakukan," ujar Anton dalam saat menjadi pembicara di seri webinar bertajuk "Dinamika Penindakan dan Kerjasama Internasional dalam Penyalahgunaan Narkoba" yang diadakan Universitas Paramadina, Selasa (23/6).

Ia menuturjan, sepanjang 2020, Satgasus Merah Putih yang dipimpin oleh Brigjen Ferdy Sambo berhasil mengungkap peredaran besar narkoba. Total barang bukti disita lebih dari 1,6 ton sabu-sabu.

Pengungkapan teranyar, kata dia, Tim Khusus Satgasus Merah Putih yang dipimpin Kombes Pol Herry Heryawan menggagalkan penyelundupan sabu-sabu jaringan Iran di Sukabumi, Jawa Barat pada awal Juni 2020 lalu. Lima pelaku diamankan dengan barang bukti 402 kg sabu-sabu.

Selain pengungkapan 402 kg sabu-sabu di Sukabumi, dua kasus besar yang berhasil terbongkar yakni 288 kg sabu-sabu di Serpong, Tangerang. Kemudian pada akhir Januari dan 821 kg sabu-sabu di Banten pada 25 Mei 2020. Sabu-sabu tersebut diselundupkan melalui jalur laut.

Dia meyakini tren transportasi penyelundupan narkoba kini mengalami pergeseran dari jalur udara menjadi memaksimalkan jalur laut. “Ketika jalur udara ditutup maka pemanfaatan jalur laut meningkat,” ucap dia.

Anton mengingatkan, sekalipun ada resesi ekonomi akibat pandemi covid-19, tidak serta merta membuat perdagangan narkoba menurun. Justru bisnis ilegal ini dipandangnya memiliki adaptasi yang baik, termasuk pola maupun model transportasi penyelundupan.

“Yang harus menjadi highlight, merosotnya ekonomi, melonjaknya angka pengangguran dan peluang berkurangnya penindakan karena anggaran yang terpotong membuka peluang bagi sindikat narkoba. Di sisi lain, dengan potret pengangguran tinggi, berdampak pada kriminalitas umum dan membuka peluang mereka yang putus asa akhirnya mengedarkan narkoba,” kata Anton.

Petugas BNN menunjukkan sejumlah barang bukti pil yang mengandung zat Carisoprodol saat gelar perkara di Arcamanik, Bandung, Jawa Barat, Senin (24/2/2020). Lebih dari tiga juta barang bukti pil narkotika golongan 1 siap edar berhasil diamankan BNN dengan kerja sama BNNP dan Kepolisian Daerah Jawa Barat dari rumah produksi yang digeledah pada Minggu (23/2/2020). ANTARAFOTO/Novrian Arbi.

Deteksi Dini

Sementara itu, Direktur Paramadina Graduate School of Diplomacy Dr Phil Shiskha Prabawaningtyas mengingatkan, pentingnya memaksimalkan keberadaan Atase Polri dalam melakukan deteksi dini memerangi peredaran narkoba.

“Jalur baru (penyelundupan narkoba) semakin meningkat dari Timur Tengah. Penting membuat early warning system dalam fungsi KBRI di negara-negara yang terindikasi (produsen narkoba). Early warning system dengan fungsi interpol dan atase polisi,” kata Shiskha saat menjadi pembicara Webinar Series "Geopolitik dan Ancaman Transnasional Narkotika di Tengah Pandemi" yang diadakan Universitas Paramadina, Senin.

Early warning system Indonesia dalam mengatasi penyelundupan narkoba dari kawasan Timur Tengah, katanya, dapat dengan memaksimalkan keberadaan atase polisi di Kedutaan Besar Republik Indonesia. Sayangnya, katanya, di kawasan Timur Tengah, Atase Polri hanya terdapat di KBRI Jeddah, Arab Saudi.

"Di Timur Tengah yang baru ada atase polisi di Arab Saudi. Bagaimana dengan Iran," kata wanita yang akrab disapa Icha tersebut.

Icha menekankan pentingnya keberadaan atase polisi di perwakilan negara di luar negeri sehingga patut menjadi kajian atau pembahasan mendalam. Selain dapat menjadi sistem deteksi dini, katanya, atase polisi juga dapat membantu pemulihan hubungan bilateral Indonesia dengan negara lain karena perbedaan politik negara. Misalnya saja, penerapan hukuman mati terpidana narkoba yang mengakibatkan sempat renggangnya hubungan dengan Brazil dan Australia beberapa waktu lalu.

Menurut dia, saat ini jalur baru penyelundupan narkoba ke Indonesia semakin meningkat dari kawasan tersebut, khususnya dari Iran. Ia menyampaikan pada 2020 saja penyelundupan sabu-sabu dari jaringan internasional Iran yang diungkap penegak hukum setidaknya melebihi 1,6 ton.

Dalam kesempatan yang sama, Icha mengingatkan Polri dan instansi terkait untuk tak lengah terhadap penyelundupan narkoba. Apalagi di tengah pandemi ketika seluruh negara di dunia tengah berupaya menstabilkan ekonomi yang terpuruk, termasuk Timur Tengah.

"Perlu antisipasi dan kebijakan untuk antisipasi. Saat ini yang sudah bisa dilakukan Indonesia adalah mencegat. Trendnya meningkat, hampir menyentuh 1,7 ton sabu dari Iran beberapa waktu terakhir," katanya.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Irine Gayatri menambahkan, selama ini perempuan rentan menjadi korban dalam industri narkoba. Baik digunakan sebagai kurir hingga sasaran penyalahgunaan agar pangsa pasar tetap besar

"Perempuan rentan menjadi korban. Tidak hanya di Asia, tapi juga Eropa dan Amerika Latin. Mereka (perempuan) menjadi transporter," tegas kandidat doktor dari Monash University, Australia tersebut. (Faisal Rachman) 

LIHAT SUMBER DOWNLOAD BACA PLUS, ADA HADIAHNYA!

Komentar Teratas

Kunjungi app