< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Download Baca Plus dan menangkan hadiah!
closeDownload
share icon

Sebelum Terlambat, Ketahui Manfaat Memaafkan Bagi Kesehatan! Ternyata Bisa Menurunkan Stres hingga Mengurangi Tekanan Darah

Grid.ID

Laporan Wartawan Grid.ID, Devi Agustiana

Grid.ID – Setipa orang pasti pernah melakukan kesalahan

Setiap orang juga pasti pernah terluka dari tindakan atau kata-kata orang lain.

Kritikan rekan kerja yang menyinggung perasaan, pasangan yang berselingkuh, atau teman baik yang justru menikam kita dari belakang.

Banyak hal sepele atau besar yang bisa menyakiti hati, bukan?

Tak jarang, luka-luka tersebut masih membekas kuat dalam ingatan sehingga menganggu kehidupan kita.

Bahkan, banyak orang menyimpan dendam karena luka-luka tersebut tak kunjung bisa dilupakan.

Nah, momen Idul Fitri adalah saat yang tepat untuk memaafkannya.

Bukan sekadar tradisi atau basa-basi belaka, ternyata memaafkan juga memiliki manfaat untuk kesehatan jiwa dan raga kita.

Kita memang tak bisa mengontrol tindakan atau kata-kata orang lain agar tidak menyakiti hati kita.

Namun, menyimpan hal-hal menyakitkan dalam hati terlalu lama berada dan berlarut-larut dalam sakit hati luka batin hanya akan merugikan diri kita.

Dilansir Grid.ID dari Tribun Kesehatan, Medical Daily menjelaskan bahwa para peneliti mengklaim, memaafkan orang lain atau sifat pemaaf dapat memberi beberapa manfaat kesehatan.

Seorang penulis buku terkenal tentang tindakan memaafkan setuju dengan hal tersebut.

Ia mengembangkan model dan intervensi yang dapat membantu orang lain untuk menjadi lebih pemaaf.

Mengurangi Tekanan Darah

Sebuah penelitian yang diterbitkan di Science Direct mengklaim sifat pemaaf dapat mengurangi tekanan darah.

Pertama-tama, para peserta menulis catatan tentang tindakan memaafkan sebelum dimulainya penelitian.

Hasil penelitian menunjukkan, meskipun sifat pemaaf tidak secara langsung berhubungan dengan reaktivitas kardiovaskular, sifat pemaaf yang lebih tinggi menurunkan tekanan darah diastolik di awal.

Hal ini mendorong pemulihan gangguan kesehatan lebih cepat.

Dengan demikian, para peneliti menyimpulkan bahwa tindakan memaafkan secara signifikan berperan dalam mengurangi tingkat tekanan darah.

Selain itu, sifat pemaaf juga meningkatkan pemulihan kardiovaskular dari stres.

Studi lain yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology juga mengungkapkan, menyimpan amarah dan permusuhan akan berisiko lebih tinggi terkena penyakit jantung koroner.

Penyakit jantung ini termasuk kondisi seperti serangan jantung, terutama di antara mereka yang memiliki riwayat penyakit.

Meningkatkan Kesehatan Mental

Sementara itu, sebuah studi dari university of Missouri mengungkapkan, memaafkan orang lain dapat melindungi diri dari depresi.

Studi ini meneliti orang dewasa lanjut usia dan ingin melihat bagaimana tindakan memaafkan mempengaruhi kesehatan mental dan depresi mereka, terutama jika para peserta merasa tidak dimaafkan orang lain.

Tim riset menggunakan data dari Religion, Aging, and Health Survey yang mencakup informasi sekitar 1.000 orang dewasa yang berusia lebih dari 67 tahun.

Para peneliti menemukan, wanita yang lebih tua secara khusus mendapat manfaat dari memaafkan orang lain.

Mereka cenderung depresi jika mereka mereka merasa tidak memaafkan dan dimaafkan orang lain.

Para peneliti menunjukkan, seiring bertambahnya usia, mereka cenderung lebih memaafkan orang lain.

Ternyata, bagi wanita setidaknya, refleksi dan pengampunan ini bermanfaat bagi kesehatan mental.

"Kedengarannya seperti superioritas moral," kata seorang penulis studi dan seorang profesor di Department of Human Development and Family Science University of Missouri, Christine Proulx.

Tetapi ini bukan tentang menjadi orang yang lebih baik.

"Orang-orang yang cenderung memaafkan orang lain tampaknya membantu mengurangi tingkat depresi, terutama bagi wanita," lanjutnya.

Psikolog klinis sekaligus asisten profesor psikiatri dan ilmu perilaku di Johns Hopkins University School of Medicine, Neda F. Gould, menyarankan bahwa tindakan memaafkan sama saja dengan menahan amarah.

Dia mengklaim, kemarahan adalah bentuk stres yang menyebabkan konflik berkepanjangan.

Maka perilaku ini dapat menyebabkan efek negatif pada tubuh.

Dengan memaafkan orang lain, tubuh dapat terhindar dari respons marah.

Hal ini tentunya berdampak positif bagi kesehatan fisiologis seseorang.

Sesuai penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Health Psychology, orang yang memiliki tingkat stres tinggi dapat meningkatkan kesehatan mental mereka melalui tindakan memaafkan.

Studi lain yang diterbitkan dalam Annals of Behavioral Medicine mengungkap temuan bahwa sifat pemaaf menurunkan tingkat stres.

Bagi sebagian orang, memaafkan memang bukan hal yang mudah.

Memaafkan memang membutuhkan komitmen dan proses yang berbeda bagi tiap individu.

Namun, bukan berarti kita tidak bisa melakukannya.

Dikutip dari Kompas.com, berikut tips agar bisa memaafkan:

- Pahami manfaat memaafkan bagi kehidupan

- Identifikasi apa yang perlu disembuhkan dan siapa yang perlu kita maafkan serta apa tujuan kita memaafkannya

- Bergabung dengan kelompok pendukung atau meminta bantuan psikolog

- Aku emosi negatif yang terjadi akibat sakit hati dan pahami bagaimana emosi tersebut mempengaruhi perilaku kita, lalu berusahalah untuk melepaskannya

- Lepaskan pikiran bahwa kamu adalah "korban" dan cobalah berpikir mengapa orang tersebut menyakiti atau mengecewakanmu.

(*)

LIHAT SUMBER DOWNLOAD BACA PLUS, ADA HADIAHNYA!