< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Download Baca Plus dan menangkan hadiah!
closeDownload
share icon

COVID-19 Lenyapkan Maskapai Murah di Eropa

harnas
COVID-19 Lenyapkan Maskapai Murah di Eropa
(AFP | FILES)
LONDON (HN) -

Pandemi virus corona baru (COVID-19) menekan perjalanan udara di seluruh dunia. Imbasnya, maskapai penerbangan menghentikan operasional armada mereka.

Kepala Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyatakan, industri transportasi udara berada dalam krisis terdalam yang pernah ada. Bahkan, pandemi ini telah menyebabkan hampir semua maskapai penerbangan dunia menghadapi risiko kebangkrutan. Beberapa sudah runtuh.

Seorang analis mengatakan, dalam skenario kasus terbaik, pandemi COVID-19 ini diperkirakan berlangsung hingga pertengahan 2021. Imbasnya, banyak kursi kosong pesawat karena masyarakat khawatir bepergian dan takut ketularan COVID-19.

Konsultan transportasi udara independen John Strickland mengatakan kepada Business Insider, satu hal yang pasti, penerbangan akan menjadi lebih terbatas. Di antara yang paling berisiko terdampak pandemi COVID-19 yakni maskapai penerbangan murah terkemuka di Eropa.

Misalnya, maskapai Ryanair dari Irlandia dan EasyJet dari Inggris. Kedua maskapai ini terbesar dan keempat di dunia dari jumlah rute.

Kedua maskapai ini tertekan akibat krisis COVID-19 dan mulai berdampak terhadap bisnis mereka. Bahkan saat ini, The Irish Times melaporkan Ryanair sekarang mengoperasikan kurang dari 20 penerbangan sehari, kurang dari 1 persen dari rata-rata sekitar 2.500 penerbangan harian mereka.

EasyJet bahkan tidak menawarkan penerbangan apa pun. Dampaknya, sekitar 4.000 awak kabinnya dipaksa cuti di Inggris.

Pendiri EasyJet Sir Stelios Haji-loannou mengatakan, maskapai akan kehabisan uang tunai pada Agustus 2020, kecuali jika membatalkan sekitar 107 pesanan pesawat senilai 4,5 miliar poundsterling.

Kondisi ini berbeda dengan Ryanair yang masih memiliki kas uang tunai 4 miliar euro dan dianggap cukup untuk bertahan hingga 18 bulan ke depan. Ini menjadikan salah satu maskapai penerbangan terbaik di Eropa.

"Ryanair memiliki jumlah uang yang fenomenal dan tidak dibebani utang dari pembelian pesawatnya," ujar Strickland.

Penasihat transportasi udara David Warnock-Smith dan Kepala Penerbangan di Universitas New Buckinghamshire Inggris mengatakan kepada Business Insider, hanya sedikit, mungkin segelintir operator di seluruh dunia, memiliki cadangan uang tunai yang besar.

Dengan kondisi krisis ini, banyak maskapai penerbangan berbiaya murah harus benar-benar efisien dalam operasional. Meski kini banyak negara menyelamatkan maskapai dengan memberikan insentif.

Namun menjadi hal sulit ketika maskapai memiliki cadangan kas tetapi tetap meminta dukungan pemerintah. "Sama sekali tidak ada kesempatan mereka mendapatkan dukungan apa pun hingga mereka di ambang kebangkrutan," ujar David.

Tiket Lebih Mahal

Krisis ini memicu tiket penerbangan menjadi lebih mahal. Seorang analis penerbangan independen Andrew Charlton kepada Business Insider mengatakan, pengurangan aktivitas ekonomi dan permintaan penerbangan dapat menyebabkan banyak maskapai penerbangan jatuh. Ini juga memicu lanskap maskapai di Eropa lebih mirip dengan Amerika Serikat (AS).

Di AS, empat maskapai teratas mengendalikan lebih dari 80 persen pasar pada 2018. Namun di Eropa, empat maskapai besar mengendalikan 40 persen pangsa pasar.

"Saya pikir apa yang akan terjadi adalah kami mendapatkan jumlah maskapai yang jauh lebih kecil. Maskapai-maskapai itu akan mulai berperilaku sedikit lebih seperti di AS. Dengan kata lain, lebih sedikit maskapai, tarif naik," kata Charlton.

Ini berarti lebih sedikit maskapai penerbangan memenuhi permintaan. Otomatis maskapai akan menaikkan tarif tiket penerbangan.

Tarif yang lebih tinggi akan memicu masyarakat tidak bisa naik pesawat. Padahal di sisi lain, maskapai membutuhkan banyak penumpang.

David mengatakan, tarif tiket maskapai penerbangan di Eropa menjadi sangat murah saat banyak maskapai penerbangan. "Pasokan lebih tinggi dari permintaan sehingga mendorong surplus kursi. Itu menekan harga tiket pesawat."


Reportase : Didik Purwanto
Editor : Didik Purwanto
LIHAT SUMBER DOWNLOAD BACA PLUS, ADA HADIAHNYA!

Komentar Teratas

Kunjungi app