< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Download Baca Plus dan menangkan hadiah!
closeDownload
share icon

Ajakan Jokowi di KTT Luar Biasa G-20: Dunia Bersatu Perangi Corona

Sindonews
Ajakan Jokowi di KTT Luar Biasa G-20: Dunia Bersatu Perangi Corona
Foto/Ilustrasi/Koran SINDO
JAKARTA - Dunia harus bersatu memenangkan dua perang dunia, yakni menghadapi wabah virus corona (Covid-19) dan dampak ekonomi yang ditimbulkannya.

Ajakan tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa G-20 yang digelar secara virtual dari Istana Bogor pada Kamis (26/3/2020) malam. Hanya dengan persatuan itulah dunia bisa mengatasi pandemi corona yang kini mendera sebagian besar negara di dunia.

Inisiatif dunia untuk bersama-sama mengatasi pandemi virus yang berasal dari Wuhan, China tersebut urgen dilakukan mengingat dampaknya sudah sedemikian memprihatinkan. Laporan teranyar menyebut virus sudah menyebar ke 203 negara terhitung sejak Desember 2019 negara, dengan jumlah warga yang terjangkit melebihi setengah juta orang, dan 24.126 di antaranya meninggal.

  • Jokowi Diminta Tampil di Depan Tangani Dampak Corona


  • Adapun di Tanah Air kasus positif terinfeksi virus corona terus bertambah. Dalam sehari kemarin, tercatat ada penambahan sebanyak 153 kasus. Dengan demikian, jumlah total pasien positif corona sebanyak 1.046 kasus, dan 87 di antaranya meninggal dunia.

    KTT yang digagas Arab Saudi selaku ketua G-20 tahun ini dan dibuka Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud melibatkan negara anggota G-20, 7 negara undangan, 9 organisasi internasional, dan 2 organisasi regional. Organisasi internasional yang terlibat antara lain PBB, WHO, IMF, dan World Bank.

    Dalam kesempatan itu, Jokowi menegaskan bahwa menguatkan kerja sama antarnegara mutlak dilakukan. Untuk itu, G-20 harus memotori gerakan solidaritas dunia dalam penanganan corona, termasuk menemukan vaksin dan obat anticorona. Tak kalah pentingnya, G-20 harus menyinkronkan kebijakan ekonomi, termasuk instrumen ekonomi untuk melawan keterpurukan ekonomi sebagai dampak corona.

    “Kita harus mencegah resesi ekonomi global, melalui kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi, serta memperluas dan memperkuat jaring pengaman sosial terutama bagi UMKM,” tuturnya.

    Secara khusus, mantan wali kota Solo itu mendorong G-20 menjaga stabilitas sektor keuangan, dari menjaga ketersediaan likuiditas, memberikan relaksasi, hingga memberi dukungan bagi dunia usaha yang terpukul dampak corona.

    “Dengan gejolak keuangan global yang tinggi, dukungan foreign exchange sangat penting. Saya juga mendukung peningkatan peran global dan regional financial safety net termasuk melalui SDR swap line dan currency swap facility, seperti Chiang Mai Initiative,” ungkapnya.

    Selain itu, mantan gubernur DKI Jakarta itu juga menyampaikan pentingnya bagi negara anggota G-20 untuk mencegah disrupsi produksi dan menjaga kelancaran distribusi barang. “Utamanya bahan pangan pokok dan barang kesehatan,” katanya.

    Menteri Luar Negeri (Mennlu) Retno Marsudi menilai KTT Luar Biasa ini menunjukkan komitmen para pemimpin dunia dalam menangani krisis yang terjadi saat ini. Dia mengungkapkan setidaknya terdapat empat hal yang disepakti dalam KTT Luar Biasa G-20. Kesepakatan dimaksud adalah upaya bersama mengurangi pandemik, men-saveguard ekonomi global, mengatasi adanya disrupsi perdagangan, dan memperkuat kemitraan global.

    “Jadi itulah roh atau apa yang muncul dan disampaikan Kepala Negara dan juga apa yang disampaikan Presiden dalam KTT khusus mengenai Covid-19 yang dilakukan oleh negara-negara G-20,” ungkapnya.

    Dia juga mengatakan bahwa KTT Luar Biasa tersebut menunjukkan bahwa setiap negara saling berkaitan. Dia menyebut bahwa virus ini tidak mengenal batas negara. “Oleh karena itu, untuk melawan virus ini maka harus dilakukan kerja sama secara bersama, terkoordinasi, dan bersinergi. Oleh karena itu, sense of solidarity, kerja sama, dan sinergi tampak muncul dari semua statement yang diberikan oleh para leaders,” ungkapnya.

    Menkeu Sri Mulyani mengungkapkan, IMF dan Bank Dunia akan memberikan pinjaman bagi negara terdampak corona, terutama bagi negara-negara dengan pendapatan rendah dan utang tinggi. Menurut dia, hal ini disepakati dalam KTT Luar Biasa G-20.

    "Lembaga multilateral seperti Bank Dunia, ADB, akan naikkan resource bagi negara yang hadapi pandemi, baik di sisi kesehatan atau social safety net. Bisa dalam loan supaya negara mampu yang siapkan kesehatan dan berikan perlindungan melalui social safety net," katanya.

    Menurut mantan direktur pelaksana Bank Dunia tersebut, negara-negara G-20 sepakat untuk menggunakan seluruh instrumen untuk melawan terjadinya resesi ekonomi global. Selanjutnya masing-masing negara merumusan bagaimana cara agar segera bangkit ataupun mengurangi resesi ekonomi yang terjadi.

    “Ini yang disampaikan Bapak Presiden di dalam statment-nya juga. Maka dibutuhkan seluruh instrumen kebijakan secara sinkron dan bersama-sama, satu arah. Bagaimana seluruh dunia bekerja sama untuk mengurangi ini. Dari kebijakan moneter termasuk kebijakan suku bunga dan relaksasi, termasuk support likuiditas,” ungkapnya.

    Dia mencontohkan dari sisi nilai tukar mata uang, yang mana saat ini mengatakan banyak negara alami capital flight. Banyak negara berpendapatan rendah akan dihadapkan pada likuiditas foreign exchange. IMF pun akan melakukan swap line, yakni pengaturan mata uang antarbank sentral.

    “Ini adalah unprecedented atau belum pernah terjadi. Dan ini menjadi salah satu terobosan untuk mencegah negara-negara yang sebetulnya tidak mengalami masalah, sekarang menghadapi risiko dari sisi foreign exchange maupun likuiditasnya,” paparnya.

    Sri Mulyani juga memaparkan bahwa negara-negara G-20 bersepakat untuk memperlancar dan meningkatkan suplai alat-alat kesehatan. Hal ini mengingat di semua negara mengalami kekurangan.

    “Apakah di Italia, Eropa secara keseluruhan, Inggris, Amerika, di Indonesia, dan di negara-negara lain, semuanya mengalami kekurangan alat-alat kesehatan. Termasuk alat pelindung diri, kemudian test kit, dan juga ventilator,” ujar dia.

    Pihak IMF-World Bank juga akan melakukan dukungan sumber daya agar perusahaan yang bisa menghasilkan alat kesehatan bisa mendapatkan prioritas, sehingga suplai alat kesehatan seluruh dunia bisa ditingkatkan. “Nah, ini juga salah satu termasuk Indonesia kesempatan. Karena beberapa sepert alat pelindung diri, Indonesia memiliki kapasitas untuk mensuplai, termasuk hand sanitizer, dan lain-lain,” ungkapnya.

    Sementara itu, dalam joint statement-nya, negara-negara G-20 menyatakan komitmennya untuk melakukan apa pun demi meminimalisasi dampak ekonomi dan sosial akibat wabah corona. Para pemimpin G-20 sepakat mempersempit kesenjangan persiapan dalam menangani korona serta meningkatkan dana untuk penelitian dan pengembangan vaksin dan obat-obatan.

    Dalam bidang perekonomian, G-20 juga sepakat menjaga stabilitas pasar, memulihkan laju pertumbuhan ekonomi dunia, memperkuat ketahanan, mengucurkan stimulus senilai USD5 triliun (Rp80.679 triliun, kurs 16.135 per dolar AS), dan mendesak Bank Sentral untuk berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan sehingga perusahaan tidak ambruk.

    Sebelumnya, G-20 yang terhitung menyumbangkan 80% di dalam produk domestik bruto (PDB) dunia telah dikritik sejumlah pengamat karena dinilai gagal mengambil respons cepat dalam menangani corona. Forum internasional itu menyatakan korona dapat memberikan dampak yang signifikan jika tidak diantisipasi segera.

    “Kami akan menyuntikkan dana senilai USD5 triliun terhadap ekonomi global sebagai bagian dari target kebijakan. Langkah ini diambil untuk mencegah dampak sosial, ekonomi, dan keuangan akibat wabah Covid-19,” ungkap G-20, dilansir Reuters. “Gangguan terhadap rantai pasokan dunia juga perlu diatasi segera.”

    Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan corona mengancam keberlangsungan hidup manusia di seluruh muka bumi. Pernyataan Guterres bukan tanpa alasan. Sampai berita ini diturunkan, sedikitnya tiga miliar orang diisolasi akibat lockdown. “Covid-19 tidak pandang bulu dan mengancam seluruh umat manusia,” kata Guterres. (Dita Angga/ Muh Shamil)
    (ysw)
    BERITA TERKAIT
    • corona
    • presiden jokowi
    • virus corona
    BACA JUGA
    KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
    • Facebook
    • Disqus
    LIHAT SUMBER DOWNLOAD BACA PLUS, ADA HADIAHNYA!