< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Download Baca Plus dan menangkan hadiah!
closeDownload
share icon

Ditolak, Wacana Penutupan Pasar Tradisional

SUARANTB
Aktivitas ekonomi di pasar tradisional masih normal. Ditengah beratnya tantangan melawan ganasnya penyebaran virus corona. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah terus mengimbau kepada masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Berkumpul juga disarankan dihindari. Tempat-tempat hiburan malam juga telah diminta ditutup. Hal-hal ini dilakukan untuk meminimalisir penyebaran covid-19. Bagaimana dengan pasar tradisional? Tidak sedikit kalangan menyangksikan upaya yang dilakukan pemerintah tidak bisa maksimal. Selama tempat-tempat umum belum sepenuhnya ditutup. Misalnya, pusat perbelanjaan, demikian juga pasar tradisional.

Pantauan Suara NTB, Senin, 23 Maret 2020, aktivitas ekonomi masih berjalan normal di Kota Mataram. Tempat-tempat nongkrong masih buka, tempat-tempat berbelanja juga masih ramai didatangi pengunjung. Jangan sebut pasar tradisional, di Kebon Roek Ampenan, di Pagesangan, maupun di Pasar Bertais. Pasar-pasar percontohan ini masih ramai dikunjungi. Apa mungkin, upaya pencegahan maksimal dilakukan?

Hj. Semah, salah satu pedagang pasar Pagesangan Mataram nampaknya pasrah. Mengganasnya virus corona di Indonesia tak sedikitpun membuatnya ciut, apalagi sampai tak berjualan. Separuh hidupnya ia gunakan untuk menopang ekonomi keluarganya di pasar tradisional. Pedagang daging dan ayam ini mengaku, sangat tak mungkin meninggalkan pasar tradisional. Apapun keadaannya. Jika tidak, dari mana ia memberi makan anak-anak dan keluarganya. “Tetap jualan,” katanya.

wacana penutupan pasar tradisional ini bergulir. Kalangan masyarakat banyak yang pro, tidak sedikit juga yang menolak. Alasan masing-masing pihak adalah keselamatan, serta pertimbangan ekonomi. Kepala Pasar Bertais, Ismail juga menyatakan menolak, wacana penutupan pasar tradisional. Menurutnya, hal itu akan berdampak dahsyat kepada perekonomian masyarakat kecil. Akan terjadi panic buying.

“Ore jadinya nanti kalau pasar ditutup,” ujarnya. Untuk mengantisipasi penularan virus corona, menurutnya pedagang juga menyadari apa yang mesti dilakukan. Diantara tindakan pencegahannya adalah menggunakan masker dan menyiapkan hand sanitizer secara mandiri. Di Kota Mataram, pemerintah daerah juga telah melakukan antisipasi dengan menyedikan tempat-tempat mencuci tangan bagi pedagang dan pengunjung.

Selain itu, perlu dilakukan penyemprotan pasar tradisional yang sampai saat ini belum dilakukan. “Pedagang juga malah paling takut. Dia menyediakan sendiri alat pengamannya. Misalnya masker dan hand sanitizer,” jelas Ismail. Di pasar percontohan terbesar di Provinsi NTB ini, dihuni 620 pedagang. Sampai kemarin, terpantau aktivitas ekonomi di pasar tradisional masih berjalan normal. Masih ramai kunjungan ke pasar.

Ditempat terpisah, Malwi, Kepala Pasar Kebon Roek juga menolak, bila pasar tradisional ditutup. Menurutnya akan menambah beban masyarakat kecil. Pedagang-pedagang di Kebon Roek juga menurutnya telah meminta, jangan sampai dilakukan penutupan pasar. Penolakan pedagang bisa digambarkan ketika muncul rencana penyemprotan pasar tradisional.

Pedagang panik. Padahal, rencana penyemprotan pasar berlangsung tak sampai setengah hari. “Mau disemprot pasar saja sudah resah pedagang. Apalagi kalau sampai ditutup total, ekonomi lumpuh total,” ujarnya. Karena itu, upaya pengamanan diri para pedagang, disarankan menggunakan masker dan hand sanitizer. Pemberitahuan ini disampaikan per 20 menit melalui corong pasar.

Kepada calon pengunjung pasar, Malwi juga mengharapkan melakukan antisipasi dengan menggunakan masker dan pencuci tangan agar lebih nyaman bertransaksi. “Pasar masih ramai. Kunjungan ke pasar masih normal,” demikian Malwi. (bul)

LIHAT SUMBER DOWNLOAD BACA PLUS, ADA HADIAHNYA!