< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Download Baca Plus dan menangkan hadiah!
closeDownload
share icon

Dilema Pemulangan WNI Eks ISIS

Tribun Kaltim

RENCANA pemulangan warga negara Indonesia (WNI) eks ISIS oleh pemerintah telah menjadi kontroversi dalam ranah publik. Tak sedikit yang memberikan penjelasan dan argumentasi, mulai dari masyarakat biasa, akademisi, politisi sampai dengan lembaga pemerintahan.

Penjelasan dan argumentasi yang diberikan oleh berbagai pihak beragam macam. Ada yang memandang berdasarkan sisi kemanusiaan dan ada yang memandang berdasarkan sisi keamanan. Statement yang diajukan oleh beberapa pihak seolah membenturkan antara masalah kemanusiaan dan keamanan.

Pemerintah seolah disuguhkan untuk memilih antara kemanusiaan dan keamanan, yang mana sejatinya keduanya merupakan suatu yang sama pentingnya. Hal ini telah membuat pemerintah merasa dilema dan berada pada posisi yang serba salah.

Ketika pemerintah memilih dari sisi kemanusiaan, pasti akan dianggap mengabaikan sisi keamanan. Begitupun sebaliknya, apabila pemerintah memilih dari sisi keamanan tentu dianggap mengabaikan sisi kemanusiaan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa memulangkan WNI eks ISIS akan menjadi ancaman bagi keamanan manusia (human security) dan keamanan negara (state security). Oleh karena itu, pemerintah harus ekstra hati-hati dalam mengambil tindakan dan membuat suatu kebijakan.

Haruskah Dipulangkan?

Mengutip pada berita yang diterbitkan oleh idtoday pada tanggal 6 Februari 2020, seorang anggota mantan teroris jaringan Al Qaeda, Muhammad Sofyan Tsauri, mengingatkan pemerintah dan masyarakat Indonesia agar hati-hati karena mereka bisa saja mengulangi perbuatannya.

Dia mengatakan mereka bisa berbohong demi kepentingan mereka sendiri untuk pulang ke Indonesia. Selain itu Sofyan juga mengatakan kadang mereka berpurapura sadar, mereka memanfaatkan itu agar bisa pulang padahal kepalanya telah merencanakan yang tidak-tidak.

Peringatan ini tentu tidak boleh dikesampingkan, akan tetapi justru harus benar-benar menjadi pertimbangan pemerintah. Hal ini dikarenakan Sofyan sendiri telah mengalami dan tau persis bagaimana karakter dan sifat dari seorang yang telah tergabung ke dalam organisasi teroris.

Mereka tidak akan sepenuhnya bisa sadar dalam jangka waktu dekat dan lebih besar kemungkinannya untuk mereka mengulangi perbuatannya kembali, apalagi jumlah WNI eks ISIS yang akan dipulangkan mencapai 600 orang.

Selain itu kita dapat berkiblat pada dua orang anggota teroris yang pernah dipulangkan ke Indonesia. Dua orang tersebut ialah Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh yang merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Makassar, Sulawesi Selatan.

Namun keduanya kembali berulah, pada awal 27 Januari 2019, dua orang ini telah melakukan aksi bom bunuh diri di Gereja Katolik, Pulau Jolo Filipina yang menewaskan 22 orang dan 100 orang luka-luka.

Dari kejadian di atas telah memberikan gambaran sangat jelas, bahwasannya untuk merubah karakter dan sifat yang telah tertanam dalam diri seorang anggota teroris bukanlah persoalan yang mudah, dan akan memakan waktu yang lama untuk menyadarinya.

Hal ini dikarenakan selama bertahuntahun lamanya, otak mereka di cuci dan didoktrin dengan pemahaman-pemahaman yang ekstrim, mereka telah dilatih untuk membunuh orangorang yang tidak sepaham dengan mereka tanpa ada rasa belaskasihan.

Oleh karena itu tidak menuntut kemungkinan apa yang dikatakan oleh seorang mantan teroris jaringan Al Qaeda tersebut akan terjadi. Ketika pemerintah memulangkan WNI eks ISIS, besar kemungkinan mereka akan mengulangi perbuatannya kembali seperti dua orang di atas. Dan yang paling terpenting untuk disadari ialah jumlah WNI eks ISIS yang akan dipulangkan mencapai 600 orang.

Jumlah ini bukanlah jumlah yang sedikit, tidak menuntut kemungkinan Indonesia dapat menjadi sarang baru bagi para teroris. Dua orang yang pernah dipulangkan saja pemerintah gagal dalam memberikan penanganan dan kesadaran kepada meraka, apalagi jumlah yang mencapai 600 orang. Tidak terbayang apa yang akan terjadi di negeri ini ketika mereka kembali berulah.

Aspek Kemanusiaan

Dalam studi keamanan, masalah kemanusiaan merupakan tujuan utama. Bagaimana memberikan rasa aman kepada manusia dan negara, sehingga terhindar dari segala ancaman yang dapat mengganggu dan mengancam keamanan manusia dan negara, merupakan tujuan utama dari adanya keamanan itu sendiri.

Sisi kemanusiaan dan negara selalu tercermin dalam studi keamanan. Oleh karena itu sisi kemanusiaan tidak dapat dipisahkan dari keamanan. Dalam studi keamanan internasional, terdapat tiga pertanyaan mendasar dalam kajian keamanan internasional pertama, untuk siapakah sebenarnya keamanan tersebut, kedua, keamanan dari apakah yang dimaksudkan, dan yang terakhir, bagaimana keamanan atau rasa aman dapat dicapai.

Secara keseluruhan para ilmuan menjawab bahwa keamanan diperuntukkan untuk manusia dan negara, akan tetapi cara untuk memperoleh keamanan itu berbeda-beda.

Dalam konteks WNI eks ISIS, pemulangannya tentu menjadi ancaman bagi manusia dan negara, apabila pemerintah tidak mampu memberikan penanganan dan kesadaran ataupun tindakan-tindakan lainnya, yang dapat mengubah karakter dan sifat seorang teroris kembali menjadi seorang nasionalis, yang cinta kepada pancasila dan tanah air.

Kehadirannya di negeri ini tentu akan membuat masyarakan menjadi cemas dan takut, diakrenakan unsur kekejaman dan kekerasan yang identik dengan teroris itu sendiri. Namun, apabila pemerintah dapat menjamin pemulangan WNI eks ISIS tidak sampai menjadi ancaman dan mengganggu stabilitas keamanan manusia dan negara, tentu masyaakat akan menerimanya.

Akan tetapi seyogianya masyarakat ragu terhadap kinerja pemerintah yang dapat menjamin pemulangan WNI eks ISIS tidak akan menjadi ancaman dan mengganggu stabilitas keamanan manusia dan negara.

Terlebih lagi masyarakat dihadirkan dengan kegagalan pemerintah pada kasus pemulangan dua orang anggota teroris di muka, yang semakin membuat masyarakat menjadi takut dan cemas apabila WNI eks ISIS benar-benar dipulangkan.

Selain itu, masyarakat telah trauma dengan beberapa kasus pengeboman yang dilakukan oleh seorang teroris, seperti kasus pengeboman di Bali, Surabaya, dan Samarinda. Hal ini telah membuat lebih banyak masyarakat menolak adanya rencana pemulangan WNI eks ISIS.

Dengan demikian, pemerintah harus benarbenar mempertimbangakan dan mengkaji dengan seksama dari berbagai aspek tentang rencana pemulangan WNI eks ISIS tersebut, agar tidak membawa dampak yang negatif bagi masyarakat dan negara. (*)

Oleh: Adrian

Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur

LIHAT SUMBER DOWNLOAD BACA PLUS, ADA HADIAHNYA!

Komentar Teratas

Kunjungi app