< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Download Baca Plus dan menangkan hadiah!
closeDownload
share icon

Serangan Rudal Iran Bikin 109 Tentara AS Cedera Otak

Makassar SINDOnews
Serangan Rudal Iran Bikin 109 Tentara AS Cedera Otak
Lebih dari 100 tentara AS mengalami cedera otak ringan akibat serangan rudal Iran pada 8 Januari lalu. Foto/Ilustrasi/Korps Marinir Amerika Serikat

WASHINGTON - Serangan rudal Iran pada 8 Januari lalu ternyata mengakibatkan banyak tentara Amerika Serikat (AS) yang mengalami cedera otak traumatis ringan. Jumlahnya bahkan terus bertambah, dimana kini tercatat ada 109 tentara AS yang dilaporkan cedera otak.

"Sampai hari ini, 109 anggota layanan AS telah didiagnosis dengan cedera otak traumatis ringan, atau mTBI, ada peningkatan 45 (personel) sejak laporan sebelumnya," kata Pentagon dalam sebuah pernyataan.

Diketahui serangan Iran itu menyasar dua pangkalan militer Irak yang dioperasikan Amerika. Masih menurut Pentagon, dari jumlah itu, sekitar 76 tentara telah kembali bertugas. Sedangkan sebagian besar sisanya masih menjalani evaluasi dan perawatan.

Presiden AS Donald Trump pada awalnya mengatakan bahwa tidak ada orang Amerika yang terluka dalam serangan di pangkalan Ain al-Asad dan Erbil di Irak pada 8 Januari malam. Namun, militer Amerika kemudian melaporkan bahwa 11 tentara AS terluka. Dalam hitungan hari, jumlah korban cedera terus bertambah.

Iran menembakkan beberapa rudal balistik di dua pangkalan itu sebagai awal dari balas dendam atas pembunuhan komandan Pasukan Quds, Jenderal Qassem Soleimani, oleh serangan drone AS di dekat Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari.

Trump telah meremehkan cedera otak yang dialami ratusan tentara Amerika dengan menganggapnya sebagai sakit kepala yang tak terlalu serius.

"Kami berterima kasih atas upaya para profesional medis kami yang telah bekerja dengan rajin untuk memastikan tingkat perawatan yang sesuai untuk anggota layanan kami, yang telah memungkinkan hampir 70 persen dari mereka yang didiagnosis untuk kembali bertugas," kata juru bicara Pentagon Alyssa Farah dalam sebuah pernyataan hari Senin, seperti dikutip AFP, Selasa (11/2/2020).

"Kita harus terus membahas kesehatan fisik dan mental bersama," ujarnya.

(tyk)

LIHAT SUMBER DOWNLOAD BACA PLUS, ADA HADIAHNYA!