< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Download Baca Plus dan menangkan hadiah!
closeDownload
share icon

Thailand Berkabung usai Penembakan

harnas
Thailand Berkabung usai Penembakan
Seorang anggota kepolisian kota Thailand menulis belasungkawa bagi para korban penembakan massal di Nakhon Ratchasima, 9 Februari 2020. (AFP | CHALINEE THIRASUPA)
Ratusan warga Kota Nakhon Ratchasima, atau juga dikenal dengan nama Korat, menggelar upacara perkabungan, Minggu (9/2) petang. Mereka berduka atas tragedi penembakan yang menewaskan 30 orang.

Pelaku teridentifikasi sebagai Sersan Mayor Jakrapanth Thomma. Ia diduga stres dijerat utang. Sabtu (8/2) sore, ia melumpuhkan penjaga gudang senjata, mengambil senapan serbu M60 dan beberapa pucuk senjata api lain, lalu mengendarai mobil militer ke mal Terminal 21.

Beberapa jam kemudian, di luar dan dalam mal, ia menembak membabi buta dan menyiarkan aksinya via Facebook. Tayangan itu segera dihapus. Militer Thailand menewaskan pelaku setelah 17 jam pengepungan dan baku tembak.

Korban tewas akibat ulah pelaku mayoritas sipil, termasuk anak usia 13 tahun. "Kasus semacam ini belum pernah terjadi di Thailand dan saya harap menjadi kasus terakhir," kata Perdana Menteri Prayut Chan-O-Cha, yang kali pertama menyatakan tindakan pelaku didorong "masalah pribadi" sehingga rumahnya dijual.

Puluhan pengunjung bersembunyi-ada yang selama enam jam-di setiap ruangan dalam mal selama kejadian. Mereka berterima kasih kepada operator CCTV yang mengunggah lokasi pelaku melalui media sosial. Berdasarkan informasi tersebut, diketahui di mana pelaku berpatroli.

Fajar menyingsing, rentetan tembakan membelah ketegangan. Militer Thailand menyerbu lantai dasar dan membebaskan para pengunjung mal yang ketakutan. Pelaku ditewaskan oleh tim penembak jitu.

"Itu seperti mimpi buruk. Saya bersyukur bisa selamat," kata Sottiyanee Unchalee (48), yang bersembunyi di toilet ruang fitnes. "Kami berada di sana selama enam jam dan sangat melelahkan. Saya kaget," tambah Aldrin Baliquing, seorang guru dari Filipina. Ia dan beberapa pengunjung lain bersembunyi di gudang penyimpanan.


Reportase : AFP | Rahmi Yati Abrar
Editor : Dani Wicaksono
LIHAT SUMBER DOWNLOAD BACA PLUS, ADA HADIAHNYA!