< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Download Baca Plus dan menangkan hadiah!
closeDownload
share icon

Panji Petualang Dipanggil Lepaskan Ban di Leher Buaya Tapi Gagal, Pihak Berwenang Tak Tinggal Diam hingga Gelar Sayembara

Grid Pop
Seekor buaya muara dengan ban yang menjerat lehernya terlihat di sungai Kota Palu, Selasa (20-9-2016) dan hingga kini berbagai pihak berusaha melepaskannya dari jeratan ban

Seekor buaya muara dengan ban yang menjerat lehernya terlihat di sungai Kota Palu, Selasa (20-9-2016) dan hingga kini berbagai pihak berusaha melepaskannya dari jeratan ban

GridPop.id - Buaya berkalung ban di Palu menyeret perhatian masyarakat sejak kemunculannya tahun 2016 silam.

Dinas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah mencoba menyelamatkan dan melepaskan ban di leher buaya sejak 2016. 

Berbagai cara dilakukan agar hal itu terealisasi.

Salah satunya dengan jala yang diberi pemberat, akan tetapi upaya itu tak berhasil.

Bahkan, Panji Petualang pernah mencoba menangkap dan melepaskan buaya tersebut.

Sayang, upaya itu juga gagal dilakukan.

Di 2020 ini BKSD kemudian mengeluarkan sayembara untuk melepaskan ban di leher buaya tersebut.

"Makanya sayembara itu kami buat. Barang siapa yang mampu mengeluarkan ban dari leher buaya itu akan mendapat hadiah yang setimpal. Tapi tidak ada DP, cash. Begitu keluar langsung bayar, dengan mendapatkan penghargaan dari BKSDA," kata Kepala BKSDA Hasmuni Hasmar kepada wartawan, Januari 2020.

Hasmuni tak menyebutkan berapa dana yang disiapkan untuk sayembara itu.

Sayembara itu akhirnya dihentikan karena sepi peminat.

Saat ini BKSDA membentuk satgas yang di dalamnya ada Polisi Air dan Udara (Polairud) Polda Sulawesi Tengah, serta tim dari KKH Jakarta.

Satgas ini dibentuk untuk melepaskan ban yang ada di leher buaya.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Pangi BKSDA Sulawesi Tengah, Haruna sekaligus sebagai Ketua Satgas mengatakan, upaya melepaskan ban di leher buaya tidak akan menggunakan tembakan bius.

"Kami menggunakan harpun (sejenis tombak). Cuma kendala ombak besar dan buayanya timbul tenggelam, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Sehingga menyulitkan teman - teman menggunakan alat itu," kata Haruna.

Harpun yang digunakan BKSDA dibuat lebih aman dan tidak mematikan.

Harpun lebih aman ketimbang tembakan bius.

Bius lebih beresiko, karena ketika terkena tembakan bius buaya akan kaget dan masuk ke dalam air.

"Kalau sudah masuk ke dalam air tim kita akan mengalami kesulitan untuk mengambil buaya berkalung ban, karena banyak juga buaya lain di sungai Palu itu. Dan dipastikan buaya berkalung ban bisa mati," kata Rino salah satu tim Satgas buaya berkalung ban, Jumat (7/2/2020)

Populasi

Pasca bencana alam, BKSDA belum mendata kembali soal populasi buaya yang ada di sungai Palu.

Namun, sebelum gempa pada September 2018, tercatat buaya di sungai Palu ada 37 ekor.

Saat ini diperkirakan jumlahnya semakin bertambah.

Hingga kini upaya penyelamatan buaya berkalung ban masih terus dilakukan.

Tim mengaku kesulitan jika posisi buaya berada di muara. Karena arus yang cukup kencang.

"Kita mencoba menggiring buaya ke posisi jauh dari muara. Itu akan memudahkan kita bekerja," ujar Haruna.

Source : kompas
Penulis : None
Editor : Popi

LIHAT SUMBER DOWNLOAD BACA PLUS, ADA HADIAHNYA!