< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Download Baca Plus dan menangkan hadiah!
closeDownload
share icon

Rupiah, Bisa Pertahankan Posisi Juara Dunia Hari ini?

CNBC Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tampaknya akan menguat di perdagangan pasar spot hari ini, Jumat (7/2/2020). Tanda-tanda apresiasi rupiah terlihat di pasar Non-Deliverable Market (NDF).

Berikut kurs dolar AS di pasar NDF beberapa saat setelah penutupan perdagangan spot kemarin dibandingkan hari ini, Rabu (5/2/2020), mengutip data Refinitiv:

Periode

Kurs 6 Februari (15:55 WIB)

Kurs 7 Februari (6:43 WIB)

1 Pekan

Rp 13.631,5

Rp13.627

1 Bulan

Rp 13.659

Rp13.690

2 Bulan

Rp 13.701,5

Rp13.708,0

3 Bulan

Rp 13.741,5

Rp13.784,0

6 Bulan

Rp 13.869

Rp13.878,0

9 Bulan

Rp 13.999

Rp14.008,00

1 Tahun

Rp 14.129

Rp14.135,0

2 Tahun

Rp 14.737,1

Rp14.884

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Sebelumnya pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot. Padahal NDF sebelumnya murni dimainkan oleh investor asing, yang mungkin kurang mendalami kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Bank Indonesia (BI) pun kemudian membentuk pasar DNDF. Meski tenor yang disediakan belum lengkap, tetapi ke depan diharapkan terus bertambah.

Dengan begitu, psikologis yang membentuk rupiah di pasar spot diharapkan bisa lebih rasional karena instrumen NDF berada di dalam negeri. Rupiah di pasar spot tidak perlu lalu membebek pasar NDF yang sepenuhnya dibentuk oleh pasar asing.

Berikut kurs Domestic NDF (DNDF) yang kali terakhir diperbarui pada 6 Februari pukul 15:44 WIB:

Periode

Kurs

1 Bulan

Rp13.660

3 Bulan

Rp13.740

Meski sempat melemah tajam di awal pekan, rupiah berhasil memukul balik dolar AS dengan menguat tiga hari beruntun hingga Kamis kemarin. Selain itu rupiah juga berhasil merebut kembali posisi juara dunia alias mata uang dengan kinerja terbaik di dunia dari pound Mesir, meski selisihnya tidak terlalu besar, dan berisiko direbut kembali. 

Sepanjang pekan ini rupiah menguat 0,25% sehingga sejak awal tahun hingga Kamis kemarin, Mata Uang Garuda mencatat penguatan 1,91%, sementara pound Mesir 1,81%.

China menjadi penyebab utama rupiah kembali perkasa dalam tiga hari terakhir. Meski sedang dilanda virus corona, tetapi serangkaian kebijakan dari Negeri Tiongkok membuat sentimen pelaku pasar membaik dan kembali masuk ke aset-aset berisiko dengan imbal hasil tinggi.

Salah satu penyebab membaiknya selera terhadap risiko (risk appetite) pelaku pasar adalah gelontoran stimulus moneter di China guna meredam dampak negatif virus corona di pasar finansial.

CNBC International melaporkan, Senin lalu PBoC menurunkan suku bunga reverse repo tenor 7 hari menjadi 2,4%, sementara tenor 14 hari diturunkan menjadi 2,55% guna meredam gejolak finansial yang terjadi akibat virus corona. Selain itu dalam 2 hari terakhir PBoC menyuntikkan likuiditas senilai 1,7 triliun yuan (US$ 242,74 miliar) melalui operasi pasar terbuka.

Berkat stimulus tersebut, bursa saham global menghijau sejak hari Selasa, dampaknya sejak hari itu rupiah juga kembali menguat. Dalam dua hari terakhir, tercatat rupiah menguat sebesar 0,51%.

Setelah stimulus dari PBoC, kini giliran Pemerintah Beijing membuat pelaku pasar gembira. Kamis kemarin CNBC International mewartakan China akan memangkas bea masuk importasi berbagai produk dari AS senilai US$ 75 miliar.

Belum jelas produk apa saja yang masuk dalam daftar tersebut, yang pasti bea masuk yang sebelumnya 10% akan dipangkas menjadi 5%, dan yang sebelumnya 5% menjadi 2,5%.

Dalam rilis Kementerian Keuangan China yang dikutip CNBC International, pemangkasan bea masuk tersebut dilakukan untuk perkembangan perdagangan yang lebih sehat antara China dengan AS. Pemangkasan tersebut mulai berlaku pada 14 Februari nanti.

Berita dari China tersebut tentunya menjadi kabar bagus setelah kedua negara resmi meneken kesepakatan dagang fase I pada 15 Januari lalu.

Diharapkan dengan pemangkasan bea impor tersebut perundingan dagang fase II akan berjalan lancar, dan bea masuk yang diterapkan kedua negara semakin dipangkas sehingga arus perdagangan global menjadi lancar. Perekonomian dunia diharapkan bisa bangkit, dan sentimen pelaku pasar semakin membaik. Saat sentimen membaik, penguatan rupiah sulit dibendung.

TIM RISET CNBC INDONESIA 

(pap)
LIHAT SUMBER DOWNLOAD BACA PLUS, ADA HADIAHNYA!