< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Download Baca Plus dan menangkan hadiah!
closeDownload
share icon

Bidik Emas PON Papua 2020, Daod Gowasa Rela Berlatih 6 Jam Sehari

Tribun-medan
Bidik Emas PON Papua 2020, Daod Gowasa Rela Berlatih 6 Jam Sehari
Tribun Medan/Chandra S
Atlet angkat berat kota Medan, Faebolo Dodo Gowasa alias Daud Gowasa, menargetkan mampu meraih medali emas pada ajang Pekan Olahraga Provinsi Sumatera Utara (Porprovsu) 2019. Daud Peraih medali perak Kejurnas di Jakarta tahun 2018. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Torehan prestasi medali perak di arena Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-19 di Jawa Barat 2016 lalu, ternyata belum membuat lifter Sumatera Utara Faebolo Dodo Gowasa berpuas diri.

Atlet angkat berat asal kota Medan yang akrab disapa Daod Gowasa ini menargetkan bisa menyumbangkan medali emas bagi sumit pada PON ke-XX di Papua yang akan berlangsung bulan Oktober mendatang.

Torehan dua medali perak dan satu perunggu pada ajang kejurnas PRA-PON di Jakarta 2019 lalu tentu menjadi modal berharga sekaligus motivasi baginya.

"Target saya untuk PON Papua medali emas. Target itu untuk menyempurnakan prestasi saya setelah meraih medali perak pada PON 2016 lalu. Kenapa targetkan emas biar semangat berlatih keras ini," ujarnya kepada Tribun Medan , Selasa sore (4/2/2020).

Lifter Sumut Faebolo Dodo Gowasa meraih dua medali perak dan satu perunggu pada Kejurnas Angkat Berat yang Kualifikasi PON Papua 2020, Senin (26/8/2019) di  Bandung.
Lifter Sumut Faebolo Dodo Gowasa meraih dua medali perak dan satu perunggu pada Kejurnas Angkat Berat yang Kualifikasi PON Papua 2020, Senin (26/8/2019) di Bandung. (Tribun Medan / Chandra)

Saat ini, Daod mengatakan sudah mulai menjalani program pemusatan pelatihan daerah (pelatda) KONI Sumut untuk persiapan PON Papua.

Atlet berdarah Nias kelahiran 20 April 1984 ini menuturkan harus siap menjalani latihan 6-7 jam sehari untuk bisa menggenjot jumlah angkatan. Semua demi target meraih prestasi puncak di ajang terbesar empat tahunan tersebut.

"Latihan biasanya dua kali sehari, pagi dan malam. Tapi karena ada aktivitas pekerjaan jadi kadang di rapel. Sekali latihan bisa 3-4 jam jadi kalau digabung bisa 6-7 jam latihan sehari. Hanya hari Minggu libur," terangnya.

Lebih lanjut kata Daod, untuk bisa meraih emas, tentu bukan semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi dia mengakui di kelas 66 kg bakal kembali bertemu dengan lawan beratnya saat kejurnas PRA-PON yakni atlet asal Lampung Viki Arianto.

Karena itu untuk bisa menyaingi peraih emas Pra-PON tersebut, dia sudah mempersiapkan strategi. Dia pun bertekad berlatih keras serta meningkatkan jumlah angkatannya.

"Saingan berat ada dari Lampung , jumlah angkatan harus dikejar. Target selama persiapan ini bisa meningkatkan angkatan, squat 310 kg, bench press 205 kg, dan dead lift 285 kg," ungkap peraih Medali perunggu PON Riau tahun 2012 ini.

Daod pun berharap selama persiapan PON beberapa bulan ini dirinya tetap maksimal berlatih. Dia berharap dijauhkan dari cedera agar bisa fokus hingga menorehkan prestasi pada PON nanti.

"Kalau kami memang latihannya di jalan veteran gedung Persatuan Angkat Besi, Berat, Binaraga Seluruh Indonesia (Pabbsi) Sumut. Harapan saya bisa berprestasi, dengan prestasi saya berharap akan bisa segera diangkat menjadi pegawai tetap di PDAM Tirtanadi," pungkas peraih medali emas Asian Powerlifting Championship di Soreang, Kabupaten Bandung tahun 2017 lalu ini.

(Cr11/Tribun-medan.com)

LIHAT SUMBER DOWNLOAD BACA PLUS, ADA HADIAHNYA!