< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Download Baca Plus dan menangkan hadiah!
closeDownload
share icon

Produksi Minyak Indonesia Tersisa 9,7 Tahun Lagi

Satu-harapan

PT Pertamina EP, anak perusahaan PT Pertamina (Persero) sekaligus Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di bawah pengawasan SKK Migas, melalui Pertamina EP Asset 1 Jambi Field berhasil melakukan pengeboran sumur minyak SGC-27 di Desa Talang Belido, Kecamatan Sungai Gelam, Muarojambi, guna mengenjot produksi pada 2020.(Foto: Antara/HO/Humas).

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Rasio produksi minyak Indonesia hanya cukup untuk 9,7 tahun lagi menurut pernyataan Presiden Direktur Pertamina EP, Nanang Abdul Manaf di Komisi VII, DPR, Jakarta, Selasa (4/2).

“Jika tidak ada penemuan lagi atau eksplorasi, maka usia produksi atau lifetime minyak kita tinggal 9,7 tahun lagi,” kata Presdir Pertamina EP, perusahaan yang menyelenggarakan kegiatan usaha di sektor hulu minyak dan gas bumi, meliputi eksplorasi dan eksploitasi.

Nanang juga mengatakan, usia produksi gas sendiri tinggal 7,8 tahun lagi. Untuk itu perlu ditemukan cadangan-cadangan baru untuk produksi minyak dan gas di Indonesia.

Karena itu, tambahnya, diperlukan diskusi komprehensif terhadap semua lini lembaga terkait untuk memberikan sumbangsih ide maupun teknis guna meningkatkan penemuan cadangan migas baru.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sendiri menargetkan lifting atau produksi siap jual minyak sebesar 743.000 barel per hari (bph) pada tahun 2024.

Capaian target itu ditetapkan dalam data pembangunan dan target rencana strategis Kementerian ESDM dalam periode 5 tahun mendatang.

“Kami akan memanfaatkan sumur-sumur (minyak) yang sudah lama ditinggalkan atau sumur tua untuk bisa diproduksi kembali dengan memanfaatkan teknologi-teknologi yang ada, seperti Enhanced Oil Recovery (EOR) atau biochemical surfactant,” kata Menteri ESDM Arifin Tasrif sebelumnya.

Program EOR, kata Arifin, diproyeksikan membutuhkan waktu lebih lama dan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan karakter subsurface yang ada di Wilayah Kerja (WK) Migas.

“Memang, kami membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa dapat mendapatkan sumber formula yang tepat tentang komposisi EOR ataupun biochemical,” katanya menjelaskan.

Sesuai dengan proyeksi pemerintah, Lapangan Ande-Ande Lumut di Natuna bisa menjadi pendongkrak lifting minyak pada tahun 2023 sebesar 25 bpd.

Terdapat pula dua sumber lain yang jadi andalan, yakni Indonesia Deepwater Development/IDD (23 bpd pada tahun 2024) dan Lapangan Abadi, Blok Masela (36 bpd pada tahun 2027). (Ant)

LIHAT SUMBER DOWNLOAD BACA PLUS, ADA HADIAHNYA!