< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Download Baca Plus dan menangkan hadiah!
closeDownload
share icon

China Karantina Kota Wuhan akibat Virus Korona, 17 Orang Meninggal

iNews Portal

BEIJING, iNews.id - Otoritas China mengarantina kota pusat wabah virus korona, Wuhan, di Provinsi Hubei, Kamis (23/1/2020). Semua penerbangan, kedatangan maupun keberangkatan, dibatalkan serta tranportasi lain.

Sejauh ini 17 orang meninggal dan 570 lainnya positif terjangkit virus yang menyebabkan gangguan pernapasan mirip SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) itu. Sebagian besar korban berada di Wuhan, di mana pasar sea food yang menjual produk secara ilegal diidentifikasi sebagai pusat penyebaran.

Pihak berwenang di Wuhan menangguhkankan semua perjalanan bus dan kereta bawah tanah serta mengatakan tak ada warga yang boleh meninggalkan kota tanpa alasan khusus. Wuhan merupakan kota pusat transpotasi berpenduduk 11 juta jiwa.

Pusat komando khusus anti-virus Wuhan menyatakan, langkah-langkah karantina yang dimulai pukul 02.00 GMT dimaksudkan untuk memotong mata rantai penyebaran virus.

"Secara tegas mengekang wabah dan menjamin kesehatan dan keselamatan masyarakat," kata pusa komando, dikutip dari AFP.

Departemen pariwisata dan budaya Kota Wuhan juga membatalkan semua tur pariwisata hingga 8 Februari. Acara festival liburan Tahun Baru Imlek, yang seharusnya dimulai Jumat, juga dibatalkan.

Tanda pagar 'Wuhan ditutup' menjadi tren di platfor media sosial Weibo dengan digunakan sebanyak lebih dari 30 juta kali.

Virus korona memicu perhatian global karena kemiripannya dengan SARS yang menewaskan hampir 650 orang di seluruh China dan Hong Kong pada 2002 hingga 2003. Seperti SARS, virus korona ditularkan melalui saluran pernapasan.

Beberapa negara sudah melaporkan kasus korona, yakni Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Thailand, dan Amerika Serikat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Rabu (22/1/2020), menunda mengeluarkan keputusan apakah kasus virus korona sebagai kondisi darurat kesehatan global atau tidak. Jika dinyatakan sebagai darurat global, maka ini keputusan sangat langka yang hanya dikeluarkan dalam situasi buruk.

Setelah pertemuan komite darurat di Jenewa, Swiss, bos WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengaku masih membutuhkan informasi lebih lanjut.

Komite darurat akan bertemu lagi pada Kamis, setelah ketuanya, Didier Houssin, mengatakan para ahli berbeda pendapat untuk menentukan status darurat kesehatan global.

Mengomentari soal pemblokiran transportasi di Wuhan, Houssin memuji kesigapan orotitas China.

"Dengan memiliki tindakan sigap tidak hanya mereka akan mengendalikan wabah di sana tapi juga akan meminimalisasi kemungkinan penyebarn virus secara internasional," ujarnya.

Editor : Anton Suhartono

LIHAT SUMBER DOWNLOAD BACA PLUS, ADA HADIAHNYA!