< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Download Baca Plus dan menangkan hadiah!
closeDownload
share icon

Bandung Sudah Masuk Zona Merah, Permukaan Tanah Turun 3-4 Meter, Ini Penyebabnya

Tribun-jabar

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ancaman serius melanda wilayah Bandung Raya. Tingkat konsumsi air yang tidak terkontrol mulai memicu terjadinya penurunan muka tanah (land subsidence).

Penurunannya bahkan yang tercepat di dunia. Pakar geodesi dan geomatika Institut Teknologi Bandung, Dr Heri Andreas ST MT, mengatakan, berdasar hasil penelitiannya, rata-rata penurunan muka tanah ini mencapai 20 sentimeter per tahun.

Heri mengatakan, riset tentang penurunan muka tanah ini sudah mereka lakukan sejak tahun 2000. Dari penelitian diketahui, tingkat penurunan antarwilayah bervariasi.

• Retakan Tanah Ancam Desa Pusparahayu Tasikmalaya, Puluhan Rumah Rusak, Ratusan Lainnya Terancam

Daerah Leuwigajah, misalnya, laju penurunan tanahnya per tahun sekitar 12 sentimeter. Ini berarti, dalam sepuluh tahun ambles sedalam 1,2 meter.

Namun, daerah lainnya semisal Gedebage, penurunan tanahnya berkisar 8-10 sentimeter per tahun.

Di Bandung Raya, kata Heri, penurunan muka tanah sudah terjadi sejak tahun 1980-an.

"Jika dirata-ratakan, penurunan tanah di wilayah Bandung Raya ini sudah mencapai 3-4 meter," ujarnya kepada Tribun saat dihubungi melalui pesawat telepon, Rabu (4/12/2019).

Dalam penelitiannya, menurut Heri, tim menggunakan dua metode pengukuran. Pertama, dengan menggunakan citra satelit dan alat global positioning system (GPS).

Kedua, tim juga mengumpulkan bukti-bukti penurunan tanah di lokasi, seperti adanya bangunan miring, jembatan hancur, retakan lantai hingga tembok, atau jalan retak.

Heri mengatakan, berdasarkan penelitiannya, penurunan permukaan tanah ini juga berdampak pada kedalaman air tanah. Berdasarkan model penelitiannya, jika tanah mengalami penurunan satu meter, berarti air tanahnya turun atau minus 20 meter.

"Jika turunnya empat meter, artinya air tanahnya sudah ada yang minus 80 meter. Padahal, minus 45 meter saja sudah masuk dalam kategori rusak," ujar Heri.

Karena itu, kata Heri, hanya ada satu solusi untuk mengatasi hal ini, yaitu penghentian eksploitasi air tanah yang tidak terkontrol.

Pembatasan eksploitasi air tanah paling tidak akan menghentikan potensi penurunan muka tanah. Namun, upaya itu bisa mencegah krisis air di masa depan.

• Wakil Bupati Minta PVMBG Teliti Kasus Retakan Tanah di Garut

Sebelumnya, kata Heri, Mexico City mengalami masalah serupa, yakni penurunan muka tanah yang mencapai 20 sentimeter per tahun.

Namun, pemerintah di negara tersebut mampu menghentikan penurunan air dengan cara mengatur manajemen air yang baik dan menghentikan pengambilan air tanah.

"Sementara di kita, di Bandung dan Jakarta ini, belum. Akhirnya sekarang menjadi yang tercepat. Dulunya Mexico City, sekarang Bandung," ujar dia.

Selain Mexico, Singapura juga berhasil mengatasi fenomena penurunan tanah.

Singapura bahkan sudah berhasil menggunakan 100 persen air permukaan dan 0 persen air tanah.

Air permukaan dapat diperoleh dengan upaya water harvesting, water recycling, dan retensi area atau waduk. Bisa juga dengan melakukan revitalisasi sungai.

Jika penurunan tanah di Bandung Raya ini tidak segera diatasi, kata Heri, kawasan ini akan mengalami kekeringan serius pada 2050.

"Bandung sudah zona merah," katanya.

Pakar geodesi ITB lainnya, Dr Irwan Gumilar ST Msi, mengatakan, penurunan permukaan tanah di Bandung Raya membuat banyak rumah posisinya di bawah jalan raya. Ini terlihat di kawasan Gedebage.

Padahal, berdasarkan keterangan warga, kata Irwan, rumah-rumah yang dibangun sekitar tahun 1980-1990-an itu awalnya sejajar dengan jalan.

"Akibatnya, warga terpaksa meninggikan halaman rumahnya, atau membuat akses tangga ke dalam rumah. Kondisi rumahnya jadi seperti basement," ujarnya melalui telepon, kemarin.

Di lokasi berbeda semisal Kopo, penurunan tanah menyebabkan bangunan menjadi miring, jalan rusak, serta retakan pada bangunan rumah yang terus bertambah.

"Awalnya lantai pecah, retakan kemudian bergerak naik ke dinding," ujarnya.

Irwan mengatakan, tanda lain adanya penurunan tanah adalah jendela makin susah ditutup dan pintu mulai berubah posisi.

"Kalau tidak diantisipasi, kerusakannya akan terus terjadi," katanya.

• Tiga Rumah di Desa Balewangi Garut Terancam Ambruk Akibat Retakan Tanah, Pergerakan Tanah Sudah Lama

Tak Memperhatikan

Sejumlah warga yang tinggal di sekitar Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) di Gedebage mengaku tak begitu memperhatikan fenomena penurunan tanah ini.

Ahmad Sanusi (58), misalnya. Meski menyadari bahwa sejumlah retakan mulai terjadi pada dinding rumahnya, karyawan swasta itu yakin bahwa retakan bukan karena penurunan muka tanah.

"Itu mungkin karena rumah ini sudah cukup lama dibangunnya, jadi wajar saja," ujarnya saat ditemui di halaman rumahnya di Cimincrang, Gedebage, kemarin

Hal senada dikatakan Lestari (34), juga warga Cimincrang. Menurutnya, retakan pada dinding rumahnya juga sempat terjadi, beberapa tahun lalu.

Namun, menurutnya, itu bukan karena penurunan muka tanah, melainkan dampak getaran proyek pembangunan perumahan elite yang sedang berlangsung yang lokasinya berdekatan dengan rumahnya.

• Retakan Tanah di Ciamis Terus Meluas, Sudah 380 Rumah Terdampak, Ikan-ikan Masuk ke Perut Bumi

LIHAT SUMBER DOWNLOAD BACA PLUS, ADA HADIAHNYA!