< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Download Baca Plus dan menangkan hadiah!
closeDownload
share icon

Displasia: Jenis, Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi, dll

Doktersehat
displasia-doktersehat

DokterSehat.com – Displasia adalah sel-sel abnormal dalam jaringan tubuh yang mungkin menjadi kanker, namun mungkin juga tidak. Displasia juga disebut sebagai sel prakanker. Ketahui lebih jelas apa itu displasia, jenis displasia, penyebab displasia, gejala displasia, dan cara mengatasi displasia.

Apa Itu Displasia?

Displasia adalah kondisi dimana sel-sel normal berkembang menjadi sel abnormal yang mungkin dapat menjadi kanker, namun mungkin juga tidak berkembang menjadi sel kanker tergantung pada jenis dan penangannya.

Displasia dapat terjadi pada anak-anak dan orang dewasa serta berkembang di berbagai bagian organ tubuh termasuk kerangka, serta menyebabkan berbagai gangguan lain. Kondisi ini terjadi karena pertumbuhan sel yang tidak normal atau disebut juga dengan prakanker.

Jenis Displasia

Terdapat ratusan jenis displasia, berikut ini adalah jenis displasia yang paling umum terjadi, yaitu:

1. Displasia Pinggul

Displasia pinggul adalah jenis displasia yang dapat terjadi pada anak-anak dan dewasa. Displasia pinggul terjadi karena sendi pinggul dalam kondisi yang salah dan soket pinggul tidak berada di tempat yang tepat untuk menutupi dan menopang tulang kaki.

Berdasarkan American Association of Orthopedic Surgeons (AAOS), anak yang menderita displasia pinggul akan mengalami gejala:

  • Kaki yang panjang sebelah
  • Kesulitan berjalan
  • Gerakan tidak fleksibel

Cara mengatasi displasia pinggul pada anak yang paling umum adalah dengan menggunakan harness atau menjalankan operasi sesuai dengan kondisi pasien.

2. Displasia Skeletal

Displasia skeletal adalah istilah medis untuk banyak gangguan pertumbuhan tulang dan tulang rawan pada anak. Displasia skeletal terjadi karena adanya mutasi genetik atau cacat pada gen tertentu yang kemudian menyebabkan perbedaan ukuran dan bentuk kaki, lengan, batang, atau tengkorak yang tidak normal.

Displasia skeletal jarang terjadi, namun penelitian menyatakan bahwa kasus displasia skeletal terjadi pada pada hampir 1 dari setiap 5.000 kelahiran. Diagnosis displasia skeletal umumnya terjadi sebelum kelainan bayi.

3. Displasia Ektodermal

Displasia ektodermal adalah istilah medis untuk sekelompok gangguan yang mempengaruhi lapisan luar jaringan embrio pembentuk kulit, rambut, kuku, dan kelenjar keringat. Displasia ektodermal terjadi karena adanya mutasi gen tertentu.

Berdasarkan National Foundation for Dysplasia Ectodermal (NFED), terdapat ratusan jenis displasia ektodermal dengan berbagai faktor risiko. Salah satu faktor risiko displasia ektodermal adalah keturunan.

4. Displasia Serviks

Displasia serviks adalah kondisi dimana sel-sel sehat di serviks berkembang menjadi sel-sel abnormal. Displasia serviks terjadi karena paparan infeksi human papillomavirus (HPV) saat hubungan seksual. Displasia serviks tidak bersifat kanker, namun dapat berkembang menjadi kanker apabila tidak dirawat dan diobati dengan benar lebih awal.

Terdapat dua tipe displasia serviks, yaitu:

  • Displasia Serviks Tingkat Rendah: Displasia rendah adalah kondisi dimana displasia berkembang secara perlahan dan umumnya dapat membaik sendiri.
  • Displasia Serviks Tingkat Lanjut: Displasia yang dapat berkemban menjadi kanker serviks.

Berdasarkan data dari Sidney Kimmel Comprehensive Cancer Center di Johns Hopkins University, displasia serviks paling umum terjadi pada wanita berusia 25 sampai 35 tahun yang memengaruhi 250.000 dan 1 juta wanita di Amerika Serikat.

5. Myelodysplastic Syndromes (MDS)

Sindrom myelodysplastic (MDS) adalah jenis displasia yang menyerang sumsum tulang belakang. Sindrom myelodysplastic (MDS) dapat mengganggu fungsi tubuh yang normal.

Penyebab sindrom myelodysplastic (MDS) adalah karena pertumbuhan abnormal pada sumsum tulang belakang sehingga tidak dapat memproduksi sel darah merah yang cukup, sehingga disebut juga pra-leukemia. Pada beberapa kasus, Sindrom myelodysplastic (MDS) dapat menyebabkan leukemia.

Penyebab Displasia

Penyebab displasia tidak dapat dipastikan karena sangat rumit. Beberapa jenis displasia disebabkan oleh mutasi DNA, namun tidak dapat diketahui apa penyebab mutasi tersebut.

Sementara itu, penyebab displasia pada orang dewasa diindikasi karena terkait pola hidup dan pola makan yang tidak sehat, namun belum ada penelitian klinis terkait pembuktian tersebut.

Berikut ini adalah penyebab displasia yang paling umum berdasarkan jenis displasia, yaitu:

1. Displasia Pinggul

Berdasarkan International Hip Dysplasia Institute, penyebab displasia pinggul yang paling utama adalah karena faktor genetik atau riwayat keluarga.

Faktor risiko displasia pinggul yang paling umum, adalah:

  • Faktor keturunan
  • Bayi lahir sungsang
  • Bayi perempuan
  • Anak pertama
  • Cara membedong yang salah

Faktor lain yang memperbesar risiko displasia pinggul adalah faktor lingkungan,  neuromuscular, atau penyakit persendian lainnya.

2. Displasia Skeletal

Penyebab displasia skeletal adalah karena terjadinya mutasi gen atau penyakit yang diturunkan dari keluarga. Bila Anda memiliki riwayat displasia skeletal, maka anak Anda memiliki faktor risiko lebih besar untuk terkena displasia skeletal juga.  

Salah satu jenis displasia skeletal yang paling umum adalah displasia skeletal yang disebabkan oleh mutasi gen FGFR3. Setiap jenis displasia skeletal memiliki penyebab tertentu lainnya.

3. Displasia Ektodermal

Setiap jenis displasia ektodermal disebabkan oleh mutasi gen yang berbeda-beda. Sementara itu, penyebab mutasi gen ini terjadi dengan berbagai cara yang tidak dapat dipastikan, namun sebagian besar adalah karena faktor keturunan.

Orang tua yang memiliki riwayat penyakit displasia ektodermal dapat menurunkan penyakit tersebut tergantung pada pola pewarisan tipe spesifik displasia ektodermal. Sebaiknya Anda konsultasi dengan konselor genetik apabila keluarga Anda memiliki riwayat displasia.

4. Displasia Serviks

Penyebab displasia serviks adalah paparan infeksi virus human papillomavirus (HPV) dari hubungan seksual.

Selain itu, faktor risiko yang memudahkan seseorang terpapar virus human papillomavirus (HPV) adalah karena sistem kekebalan tubuh yang lemah dan cairan serviks dari perokok mengandung bahan kimia konsentrasi tinggi dari asap rokok.

5. Myelodysplastic Syndromes (MDS)

Penyebab myelodysplastic syndromes (MDS) adalah karena efek samping dari pengobatan dengan radiasi. Pasien yang melakukan perawatan menggunakan sinar radiasi memiliki risiko lebih tinggi terkena myelodysplastic syndromes (MDS).

Gejala Displasia

Berikut ini adalah gejala displasia berdasarkan jenisnya, yaitu:

1. Displasia Pinggul

Gejala displasia pinggul, meliputi:

  • Satu kaki lebih panjang
  • Anak sulit berjalan
  • Satu pinggul kurang fleksibel

Displasia pinggul pada remaja dapat meningkatkan risiko terkena penyakit osteoarthritis.

2. Displasia Skeletal

Gejala displasia skeletal, meliputi:

  • Tubuh pendek
  • Pertumbuhan yang lambat
  • Anggota tubuh yang lebih pendek
  • Ukuran kepala lebih besar
  • Tulang melengkung
  • Sendi kaku

Pada kondisi tertentu, Anda mungkin juga merasa seperti pinggul Anda tidak seimbang dan menyebabkan nyeri.

3. Displasia Ektodermal

Gejala displasia ektodermal dapat terlihat dari kondisi rambut rapuh, perubahan warna kuku, kulit kering hingga bersisik, kelenjar keringat yang berlebihan, dan gigi yang tidak normal.

4. Displasia Serviks

Umumnya, gejala displasia serviks tidak disadari oleh penderitanya. Gejala displasia serviks yang paling umum adalah timbulnya kutil kelamin. Displasia serviks baru dapat dipastikan setelah Anda melakukan tes Pap Smear.

5. Myelodysplastic Syndromes (MDS)

Gejala myelodysplastic syndromes (MDS) mungkin tidak dikenali, namun penyakit ini dapat dipastikan melalui tes darah rutin untuk mengetahui jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.

Cara Mengatasi Displasia

Cara mengatasi displasia tergantung pada setiap jenis displasia dan kondisi pasien. Umumnya, pengobatan displasia dilakukan dengan mengurangi gejala displasia.

Berikut ini adalah cara mengatasi displasia secara umum berdasarkan jenisnya, yaitu:

1. Displasia Pinggul

Cara mengatasi displasia pinggul tergantung pada usia bayi dan bagian tulang pinggul mana yang terkena. Pada bayi di bawah usia 6 bulan, biasanya menggunakan penahan seperti Harness Pavlik untuk membantu menahan dan membentuk soket pinggul.

Pada anak atau remaja, cara mengatasinya adalah dengan melakukan operasi pinggul apabila kondisinya sudah memburuk dan berisiko mengalami arthritis.

2. Displasia Skeletal

Penderita displasia skeletal mungkin memiliki perawatan berbeda sesuai dengan seberapa parah kondisi dan bagian rangka mana yang terinfeksi. Berikut ini adalah cara mengatasi displasia skeletal secara umum, yaitu:

  • Pilihan untuk merangsang hormon pertumbuhan
  • Menggunakan kawat gigi untuk merapikan dan meningkatkan kepadatan gigi
  • Operasi

3. Displasia Ektodermal

Berikut ini adalah cara mengatasi displasia ektodermal secara umum, yaitu:

  • Memperhatikan kesehatan dan kebersihan gigi
  • Menggunakan saline sprays untuk hidung yang kering atau tetes mata
  • Menggunakan krim topikal atau salep untuk gejala gangguan kulit
  • Melakukan perawatan kulit secara berkala sesuai dengan gejala

Anda disarankan untuk konsultasi dengan dokter untuk perawatan terbaik sesuai dengan kondisi.

4. Displasia Serviks

Displasia serviks yang tidak ditangani dengan cepat dan tepat dapat berkembang menjadi kanker serviks. Berikut ini adalah beberapa metode yang paling dianjurkan untuk mengatasi displasia serviks, yaitu:

  • Operasi Laser: Prosedur bedah untuk merusak jaringan abnormal pada serviks
  • Cryocauterization: Prosedur bedah untuk menghancurkan sel abnormal dengan suhu yang sangat dingin
  • Loop Electrosurgical Excision (LEEP): Prosedur untuk menghancurkan sel-sel abnormal dengan electrosurgical

Anda harus berkonsultasi dengan dokter untuk melakukan perawatan yang tidak akan berpengaruh buruk pada sistem reproduksi dan kesuburan Anda di masa depan. Sementara itu, cara mencegah displasia serviks adalah dengan menggunakan vaksin HPV, yaitu vaksin untuk mencegah kanker serviks.

5. Myelodysplastic Syndromes (MDS)

Satu-satunya cara mengatasi myelodysplastic syndromes (MDS) adalah dengan transplantasi sel induk. Dokter mungkin akan menyarankan perawatan pendukung seperti transfusi darah dan faktor pertumbuhan sel darah.

Cara Mencegah Displasia

Displasia adalah penyakit kompleks dengan ratusan jenis dan berbagai penyebab yang sulit untuk dicegah, namun Anda dapat mengurangi kemungkinan terkena displasia dengan menghindari faktor risikonya, yaitu:

  • Menjalani pola hidup sehat
  • Menerapkan pola makan sehat
  • Tidak merokok atau minum alkohol
  • Bila keluarga Anda memiliki riwayat displasia, sebaiknya konsultasi dengan dokter

Walaupun begitu, tidak ada penelitian yang berani menyatakan bahwa menjalani pola hidup sehat dapat seratus persen mencegah Anda dari penyakit displasia, terlebih lagi sebagian besar penyebab displasia adalah karena mutasi genetik.

Displasia adalah kondisi dimana sel normal berkembang menjadi sel abnormal. Displasia dapat berkembang menjadi kanker apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat, namun sebagian kasus displasia lainnya tidak menjadi kanker.

Itulah pembahasan lengkap tentang apa itu displasia, jenis displasia, penyebab displasia, gejala displasia, dan cara mengatasi displasia. Semoga informasi kesehatan ini bermanfaat untuk menjaga kesehatan Anda secara keseluruhan.

Sumber:

  1. Johnson, Jon. 2018. Everything you need to know about dysplasia. https://www.medicalnewstoday.com/articles/311902.php#in-children. (Diakses pada 3 Desember 2019).
  2. Herndon, Jaime. 2018. Cervical Dysplasia. https://www.healthline.com/health/cervical-dysplasia. (Diakses pada 3 Desember 2019).
  3. Cafasso, Jacquelyn. 2016. Skeletal Dysplasia. https://www.healthline.com/health/skeletal-dysplasia#causes. (Diakses pada 3 Desember 2019).
  4. WebMD. 2018. What Is Hip Dysplasia?. https://www.webmd.com/children/what-is-hip-dysplasia#1. (Diakses pada 3 Desember 2019).
  5. Genetic and Rare Diseases Information Center (GARD). 2016. Ectodermal dysplasia. https://rarediseases.info.nih.gov/diseases/6317/ectodermal-dysplasia. (Diakses pada 3 Desember 2019). 
LIHAT SUMBER DOWNLOAD BACA PLUS, ADA HADIAHNYA!