< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Download Baca Plus dan menangkan hadiah!
closeDownload
share icon

Kajian Filologis Kitab Sahih Bukhari

Republika

Kajian Filologis Kitab Sahih Bukhari

Oleh: Menachem Ali, Dosen Philology Universitas Airlangga.

Berdasarkan uji karbon C-14 terhadap manuskrip kuno kitab Sahih Bukhari yang tersimpan di British Library, School of Oriental and African Studies (SOAS) di London, ternyata manuskrip tersebut diidentifikasi ditulis pada 1185-1186 M, atau ditulis pada Abad ke-12 M, sedangkan Imam Bukhari wafat 256 H/870 M, atau Abad ke-9 M.

Jadi, ada jarak sekitar 300 tahun antara manuskrip Shahih Bukhari yang tersimpan di British Library ini dengan periode kehidupan Imam Bukhari. Maka pasti ada manuskrip lain yang lebih tua. Menariknya, manuskrip Shahih Bukhari ini memuat teks hadits dengan disertai tanda harakat (syakl). Ini menjadi sebuah indikasi kuat bahwa tradisi penggunaan tanda baca/harakat (syakl) pada teks hadits Shahih Bukhari telah populer bertahan minimal selama 300 tahun sejak era Imam Bukhari.

Manuskrip kitab Sahih Bukhari yang tersimpan di British Library ini memang bukan manuskrip asli tulisan Imam Bukhari, tetapi hanya merupakan manuskrip salinan. Indikasi manuskrip ini disalin atau ditulis ulang dapat diidentifikasi melalui bukti internal teks, karena pada awal teksnya tertulis frase اخبرنا البخاري (akhbarana Al-Bukhari) yang ditulis di awal periwayatan hadits. Jadi manuskrip ini memang tidak ditulis langsung oleh Imam Bukhari.

Namun yang lebih menarik, ortografi penulisan الا ملكه (illa mulkahu) sebagaimana yang termaktub dalam manuskrip ini justru menjadi penting sebagai bukti tekstual tentang popularitas mayoritas bacaan yang shahih selama rentang waktu 300 tahun sejak era Imam Bukhari. Selain itu, manuskrip kuno kitab Shahih Bukhari yang tersimpan di Toroudant Library, Marocco, berdasarkan identifikasi kolofonnya tertulis pada tahun 490 H (1097 M), atau ditulis pada Abad ke-11 M, sedangkan Imam Bukhari wafat 256 H (870 M), atau Abad ke 9 M. Jadi, ada jarak sekitar 227 tahun antara manuskrip Shahih Bukhari yang tersimpan di Torudant Library ini dengan periode kehidupan Imam Bukhari. Maka pasti juga ada manuskrip Shahih Bukhari yang lebih tua lagi dibanding manuskrip ini.

Menariknya, manuskrip Shahih Bukhari ini memuat teks hadits dengan disertai tanda harakat (syakl). Ini menjadi sebuah indikasi kuat bahwa tradisi penggunaan tanda baca/ harakat (syakl) pada teks hadits Shahih Bukhari telah populer bertahan minimal selama 227 tahun sejak era Imam Bukhari. Manuskrip kitab Shahih Bukhari yang tersimpan di Toroudant Library ini memang bukan manuskrip asli tulisan Imam Bukhari, tetapi hanya merupakan manuskrip salinan.

Namun yang lebih menarik, ortografi penulisan الا ملكه (illa mulkahu) sebagaimana yang termaktub dalam manuskrip ini justru menjadi penting sebagai bukti tekstual tentang popularitas mayoritas bacaan yang shahih selama rentang waktu 227 tahun sejak era Imam Bukhari.

Sementara itu, manuskrip kuno kitab Shahih Bukhari yang tersimpan di museum Murad Molla Kutuphanesi, Turkey dengan nomor registrasi berkode CD 4241, ternyata merupakan manuskrip yang usianya jauh lebih tua dibanding manuskrip kitab Shahih Bukhari yang tersimpan di British Library (London) dan manuskrip kitab Shahih Bukhari yang tersimpan di Toroudant Library (Marocco). Manuskrip kitab Shahih Bukhari koleksi museum Murad Molla Kutuphanesi ini diidentifikasi ditulis pada tahun 900-an M., atau Abad ke-9 M., sedangkan Imam Bukhari wafat pada tahun 870 M. Jadi ada jarak hanya sekitar 30 tahun antara manuskrip kitab Shahih Bukhari koleksi museum Murad Molla Kutuphanesi ini dengan periode kehidupan Imam Bukhari. Dengan demikian, manuskrip ini adalah naskah terkuno yang hanya berjarak sekitar 30 tahun dengan periode Imam Bukhari sebagai sang otograf kitab Shahih-nya.

Menariknya, manuskrip koleksi museum Murad Molla Kutuphanesi ini ditulis dengan menggunakan tanda harakat (syakl) yang tidak sempurna, dan pada teks hadits-nya ternyata tertulis frase ملكه (mulkahu). Ini sebagai fakta tekstual adanya popularitas bacaan yang ditransmisikan secara shahih dalam rentang waktu masa awal 30 tahun sejak periode kehidupan Imam Bukhari.

Berdasarkan ketiga manuskrip Shahih Bukhari tersebut, maka validitas ortografi penulisan (Arab: "kitabah") الا ملكه (illa m-l-k-h) sekaligus bacaan (Arab: "qiraah") illa mulkahu tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Itulah sebabnya, penerbitan Salafi ternyata juga mengakui keakuratan/keotentikan frase tersebut sebagai bagian dari tulisan asli Imam Bukhari sendiri. Ada 2 kitab cetakan Shahih Bukhari yang berasal dari penerbit Salafi yang sempat saya identifikasi, yakni:

1. Sahih Bukhari (Beirut, Lebanon: Dar Ibn Hazm, 1430 H/ 2009 M), hlm. 892

2. Sahih Bukhari (Riyadh, Saudi Arabia: Dar as-Salam, 1419 H/ 1999 M), hlm. 837

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Kajian Filologis Kitab Sahih Bukhari

Dengan demikian, penerbitan kitab Shahih Bukhari dari penerbit Salafi tersebut merupakan sebuah pengakuan atas validitas frase tersebut, yang anehnya justru diperdebatkan oleh orang-orang yang bernalar absurd dan kontradiktif.

1. Teori absurditas pertama

Dia mengatakan bahwa bacaan yang benar adalah "malikahu", sedangkan bacaan "mulkahu" adalah bacaan yang salah, yang katanya pembacaan "mulkahu" itu akibat tidak mengerti bahasa Arab. Anehnya, dia juga tdk bisa menunjukkan 1 pun terbitan/cetakan kitab Shahih Bukhari yang teksnya tertulis "malikahu". Bahkan ia juga tdk bisa menunjukkan 1 pun manuskrip yang tertulis "malikahu."

Dalam konteks ini, dia jelas sekali secara eksplisit mengakui bahwa frase الا ملكه (illa m-l-k-h) adalah asli tulisan Imam Bukhari. Artinya, ortografi tulisan ("kitabah") frase الا ملكه itu diakui valid berdasarkan sanad transmisi hadits yang diajarkan oleh guru-gurunya. Namun, akhirnya teks tersebut diklaim dibaca secara salah/ keliru oleh kebanyakan orang.

Anehnya, ia secara de facto tidak dapat membuktikan 1 pun manuskrip yang secara "qiraah" terbaca "malikahu" sebagaimana yang dinyatakannya. Ini nalar absurd yang pertama. Artinya, ketiadaan sinkronisasi antara fakta "kitabah" dan fakta "qiraah" yang sedang dibahasnya.

Inilah kontradiktif yang pertama. Menariknya, kedua cetakan kitab Shahih Bukhari yang diterbitkan oleh penerbit Salafi tersebut justru merupakan fakta bahwa adanya sinkronisasi antara "kitabah" dan "qiraah" frase الا ملكه yang memang berasal dari tulisan asli Imam Bukhari. Justru sangat tidak mungkin bila penerbit Salafi mencantumkan frase bacaan الا ملكه (illa mulkahu) dalam cetakan kitab Shahih Bukhari kalau mereka sendiri tidak yakin atas validitasnya frase tersebut.

2. Teori absurditas kedua

Akibat tdk ditemukan 1 pun bacaan "malikahu" dalam semua cetakan kitab Shahih Bukhari atau pun manuskrip tulisan tangan kitab Shahih Bukhari, maka ia membangun teori baru, yakni bahwa frase الا ملكه itu bukanlah tulisan asli Imam Bukhari, tapi frase itu ditambahkan oleh orang lain, karena menurutnya, ada manuskrip yang tidak mencantumkan frase الا ملكه (illa m-l-k-h). Anehnya, ia mengutip pendapat tsb dari pihak kedua dan tanpa menyebutkan bukti manuskripnya yang tanpa tercantum frase الا ملكه tersebut. Ini nalar absurd yang kedua.

3. Teori absurditas ketiga

Setelah dia tdk bisa menunjukkan identitas manuskrip mana yang tertulis tanpa frase الا ملكه (illa m-l-k-h), maka dibangunlah teori yang lebih baru lagi, bahwa Imam Bukhari sebenarnya tidak menta'wil, karena ada lanjutan teksnya setelah frase الا ملكه tsb.

Nalar absurd ini semakin aneh lagi, sebab setelah frase الا ملكه justru teksnya tertulis ويقال وقال tersebut, itu artinya frase setelah الا ملكه itu memang bukan pendapat Imam Bukhari, tapi Imam Bukhari mengutip bahwa ada pendapat-pendapat lain yang mengatakan demikian.

Namun yang jelas penyebutan الا ملكه (illa m-l-k-h) merupakan pendapat Imam Bukhari sendiri. Dalam penulisan tafsir dan teks-teks Arab klasik, penggunakan istilah ويقال وقال itu sangat familiar di kalangan para mufassirin atau muhadditsin, yang maksudnya merujuk pada makna "ada pendapat lain yang mengatakan demikian.

"Justru frase الا ملكه itulah pendapat pribadi Imam Bukhari yang sebenarnya, yang kemudian diikuti kata ويقال وقال sebagai penegasan bahwa ada pendapat yang menyatakan lain "......." Adanya pendapat lain, yang disebut oleh Imam Bukhari dengan ungkapan tersebut, yang terletak setelah frase الا ملكه, terbukti tercantum pada semua teks, yang tertulis الا وجهه الا ملكه (kecuali wajah-Nya kecuali m-l-k-h), dan ungkapan ويقال وقال tetap ada pada semua manuskrip. Kecuali bila kata ويقال وقال tdk tercantum dalam semua naskah cetakan atau manuskrip Shahih Bukhari, maka bisa dipastikan bahwa kalimat setelah frase الا ملكه tsb itu adalah pendapat Imam Bukhari.

Adakah manuskrip atau cetakan kitab Shahih Bukhari yang tdk tercantum kata ويقال وقال ? Silakan buktikan berdasar bukti manuskrip dan cetakan Shahih Bukhari yang tanpa kata ويقال وقال tersebut.

4. Teori absurditas keempat

Jika seandainya dikatakan bahwa dalam manuskrip tersebut dipahami :

إلا وَجْهَهُ

= إلا مَلِكَهُ

= إلا مَلِكَ وَجْهِهٖ

"Kecuali wajah-Nya"

= "kecuali pemilik-Nya"

= "kecuali pemilik wajah-Nya"

Pertama, ini tentu saja secara aqidah sangat absurd. Kalau frase الا ملكه dibaca "illa malikahu" maka ini bermasalah, sebab artinya "kecuali pemilik-Nya." Lalu, siapa sebenarnya pemilik-Nya? Siapakah pemilik الخالق (Sang Maha Pencipta)? Kedua, secara gramatikal tafsiran tersebut menggunakan nalar tafsir yang "ungrammatical." Menurut kaum Salafi, jadi khusus untuk "tafsir" ini (dengan kalimat مَلِكَ ), nisbah dari dhamir ه dalam kalimat مَلِكَ itu ditujukan ke kalimat وجهه, bukan ditujukan ke kalimat الخالِق (Al-Khaliq). Sekali lagi, ini penafsiran yang tidak valid berdasar kaidah bahasa Arab yang shahih.

الا وجهه = الا ملكه

الا ملكه # الا ملك وجهه

Term وجهه (wajah-Nya) sejajar dengan term ملكه (m-l-k-Nya) dan dhamir ه itu nisbahnya bukan pada وجه (wajah) tapi term ملك itu justru yang nisbahnya pada وجه (wajah). Jadi "tafsiran" الا ملك وجهه (illa malika wajhihi) sangat tidak sejajar dengan ungkapan yang digunakan oleh Imam Bukhari الا ملكه (illa m-l-k-h). Bila الا وجهه (illa wajhahu) yang dimaksud oleh Imam Bukhari itu bermakna "kecuali Sang Pemilik wajah-Nya" maka mengapa Imam Bukhari sejak awal tidak menulis الا ملك وجهه (illa malika wajhihi). Apakah Imam Bukhari tidak paham bahasa Arab?

Ada catatan penting berkaitan dengan komentar Albani terkait frase الا ملكه (illa m-l-k-h) sebagaimana yang termaktub dalam kitab Shahih Bukhari. Artinya, Albani mengakui validitas ortografi tulisan (kitabah) dan validitas bacaan (qira'ah) kata ملكه (m-l-k-h).

1. Validitas "kitabah" (ortografi tulisan) ملكه (m-l-k-h)

Bahwa tulisan الا ملكه (illa m-l-k-h) dalam Shahih Bukhari itu memang valid sebagai tulisan asli dari Imam Bukhari sendiri, bukan tulisan yang ditambahkan oleh orang lain yang ditambahkan kemudian oleh orang lain dalam kitab Shahih Bukhari, sebab jika frase tersebut bukan tulisan asli Imam Bukhari, maka tidak mungkin Albani menyatakan pernyataan demikian: هذا لا يقول مسلم مؤمن ("ini bukanlah perkataan seorang Muslim yang mukmin").

2. Validitas "qiraah (bacaan) ملكه (mulkahu)

Pernyataan Albani semakin menegaskan bahwa bacaan yang dipikirkan oleh Imam Bukhari adalah bacaan "mulkahu", bukan "malikahu". Itulah sebabnya Albani berkomentar secara tdk langsung, yakni tanpa menyebut namanya secara terus terang. Ibarat orang menyatakan: "dia itu animale rationale (binatang yang berakal)", meskipun

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
LIHAT SUMBER DOWNLOAD BACA PLUS, ADA HADIAHNYA!