< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Download Baca Plus dan menangkan hadiah!
closeDownload
share icon

PT MSS yang Ledakkan Batu di Kampung Cihandeuleum Diminta Evakuasi Warga Setempat

tribun cirebon

Laporan Wartawan Tribun, M Syarif Abdussalam

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Barat telah menginvestigasi peristiwa longsor batu raksasa di Kampung Cihandeuleum, Desa Sukamluya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta yang terjadi Selasa (8/10/19).

Berdasarkan hasil investigasi, PT Mandiri Sejahtera Sentra (MSS), selaku pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) di lokasi tersebut, membuat kesalahan perencanaan karena desain peledakan yang dipakai tidak sesuai dengan dokumen studi kelayakan.

Setelah mengantongi penyebab longsor batu, Dinas ESDM Jabar menggelar pertemuan dengan sejumlah pihak, yakni Inspektorat Tambang, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jabar dan Kabupaten Purwakarta, perwakilan PT MSS, serta Biro Hukum dan HAM Setda Provinsi Jabar.

"Inspektur tambang tidak hanya menyampaikan hal-hal teknis, tetapi juga menyampaikan pandangan yang sifatnya administratif," ucap Kepala Dinas ESDM Jabar Bambang Tirtoyuliono melalui ponsel, Sabtu (12/10).

Kemudian DLH Provinsi Jabar dan Kabupaten Purwakarta menyampaikan pendapat dari perspektif lingkungan. PT MMS juga menyampaikan pandangannya dalam kesempatan tersebut.

Menurut Bambang, ada dua kesimpulan dari pertemuan tersebut. Pertama, memerintahkan PT MSS untuk segera mengevakuasi masyarakat yang terdampak.

"Yang kedua, kita akan merekomendasikan kepada DPMPTSP (Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu) Jabar untuk menghentikan sementara operasional pertambangan," kata Bambang.

Nantinya, kata Bambang, Dinas ESDM membuat kriteria catatan teknis yang mesti dipenuhi dalam waktu yang sudah ditentukan PT MSS apabila ingin kembali beroperasi. Rekomendasi dan kriteria tersebut akan diberikan ke DPMPTSP Jabar pada Senin (13/10).

"Berdasarkan regulasi, alur penindakan itu. Pertama, teguran tertulis satu, teguran tertulis dua. Kemudian, penghentian sementara. Baru pencabutan permanen. Jadi, kalau tidak memenuhi kriteria dalam kurun waktu yang telah ditentukan, pasti diusulkan dicabut izinnya," ucapnya.

Sedangkan langkah preventif yang dilakukan Dinas ESDM Jabar adalah mengevaluasi pertambangan di Jawa Barat. Tujuannya tentu saja supaya insiden serupa tidak terjadi.

"Paling tidak satu tahun satu kali kita melakukan fungsi dan pengendalian terhadap pertambangan yang berizin kita lakukan secara periodik evaluasi," kata Bambang.

Diberitakan sebelumnya, Kepolisian Resor Purwakarta mulai melakukan penyelidikan di lahan pertambangan batu PT. Mandiri Sejahtera Sentra (MSS) di Kampung Cihandeleum.

Sampai saat ini, tiga orang diperiksa dari perusahaan tersebut, meski belum ada tersangka.

Kasatreskrim Polres Purwakarta, AKP Handreas Ardian mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan diduga akibat kelalaian penambang batu.

"Kami masih terus melakukan penyelidikan, dan di lokasi sudah dilakukan pemasangan police line. Untuk penyebab pastinya nanti bisa diketahui sesuai dengan hasil penyelidikan," ujar Handreas, di Kabupaten Purwakarta, Kamis (10/10/2019).

Kapolres Purwakarta, AKBP Matrius menuturkan pihaknya telah membentuk tim khusus untuk menyelidiki secara mendalam kasus tersebut. Apabila ditemukan unsur kelalaian, maka mereka akan menyelesaikan secara hukum.

"Apabila memenuhi unsur baru kami melakukan penyidikan dengan pemanggilan saksi-saksi dan semua yang terlibat dalam blasting atau peledakan ini," katanya.

Sebagaimana diberitakan, hujan batu berbagai ukuran bahkan sebesar rumah bangunan dan jalan di Kampung Cihandeleum, RT.09/05, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DPKPB) Kabupaten Purwakarta, Wahyu Wibisono membenarkan peristiwa tersebut. Tetapi, dikabarkan batu-batu yang menimpa rumah warga itu bukan disebabkan faktor alam.

"Kami dapat laporan dari warga setempat bernama Azis. Tidak ada korban jiwa. Tapi kerugian materi sekitar Rp.460.000.000 juta," ujar Wahyu, melalui ponselnya, di Kabupaten Purwakarta, Selasa (8/10/2019).

Menurutnya, peristiwa itu bermula diduga kuat saat proses "Blasting" atau peledakan batu oleh PT.MSS. Lantas dari ledakan itu mengenai rumah-rumah yang berada disekitar pemukiman warga. Sehingga warga marah dan berbondong bondong mendatangi pihak perusahaan guna meminta pertanggungjawaban.

"Dari hasil pengecekan di lapangan dan menurut keterangan saksi batu tersebut jatuh dari ketinggian sekira 500 meter ke rumah warga yang ada dibawah gunung," katanya.

Kholid saat berada di depan rumahnya di Kampung Cihandeuleum, Purwakarta yang hancur tertimpa bebatuan akibat diduga kuat aktivitas peledakan batu oleh pekerja PT.MSS, Jumat (11/10/2019).
Kholid saat berada di depan rumahnya di Kampung Cihandeuleum, Purwakarta yang hancur tertimpa bebatuan akibat diduga kuat aktivitas peledakan batu oleh pekerja PT.MSS, Jumat (11/10/2019). (Tribun Jabar/Ery Chandra)

Sedangkan warga setempat, Azis (30) menuturkan sebanyak 6 rumah dan satu sekolah dalam keadaan rusak. Dari ringan hingga berat. Di lokasi kejadian pun terdapat 8 buah batu ukuran besar.

"Banyak sekali batu-batu yang menimpa bangunan sampai ke jalan," ujarnya. 

Kesaksian Warga

Dodi Dores (37) satu diantara warga yang menyaksikan langsung peristiwa jatunya hujan bebatuan dari perbukitan. Hujan batu itu diduga kuat terjadi saat proses "Blasting" atau peledakan batu oleh PT.MSS.

Dari informasi yang dihimpun Tribun Jabar, dua rumah warga mengalami kerusakan berat. Dari peristiwa tersebut, rumah Dodi Dores hampir keseluruhan hancur, hanya tersisa pada bagian depannya. 

Meski tak ada korban jiwa manusia, seekor ayam tergeletak mati dekat sebuah batu berukuran cukup besar di bagian belakang rumahnya.

Sedangkan satu rumah lagi hampir serupa. Satu batu berukuran besar menimpa rumah tersebut. Kini, penghuni rumah tersebut tengah mengungsi. Sedangkan puluhan rumah, dan sekolah lainnya mengalami kerusakan ringan.

Batu berukuran besar mendarat di rumah warga, di Kampung Cihandeuleum, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta.
Batu berukuran besar mendarat di rumah warga, di Kampung Cihandeuleum, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta. (ISTIMEWA)

Dodi menceritakan peristiwa yang terjadi itu Selasa (8/10/2019) sekitar pukul 12.30 WIB.  Menurutnya ketika itu tengah dilakukan proses peledakan bebatuan. Lalu, batu-batu berukuran kecil hingga besar berjatuhan ke permukiman warga.

"Pada jatuh ke bawah, ada yang terbang dan lainnya. Akhirnya masuk ke rumah, madrasah, kena pepohonan, ke jalan, dan lainnya," ujar Dodi kepada Tribun Jabar, di kediamannya, di Kampung Cihandeuleum RT.09/05, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Rabu (9/10/2019).

Menurutnya, pada saat bebatuan jatuh itu seperti tidak kelihatan berupa batu-batu. Mulanya berupa asap begitu pekat yang terjadi. Saat itu, di dalam rumah istrinya tengah melasanakan salat.

"Suaranya begitu gemuruh dan dahsyat. Suaranya brak, seperti tembakan. Dengan kecepatan cepat. Saya sudah diluar, lalu memanggil masyarakat sambil menjerit-jerit memberitahu," katanya seraya menyampaikan sejumlah warga juga panik.

Dodi menuturkan selain rumah hancur, benda-benda yang berada di dalam rumahnya juga rusak parah. Semisal kulkas, laptop, printer, seluruh barang peralatan dapur, pakaian, handycam, kamera digital, lemari, dan lainnya.

"Ini rumah rusak berat, enggak bakalan bisa disambung karena hancur. Rugi dihitung sementara bisa ratusan juta lebih. Bangun rumah seperti ini lagi sudah berapa totalnya," ujarnya.

Dia menyampaikan semestinya pihak perusahaan tersebut bisa memperhitungkan dampak yang akan terjadi. Menurutnya, bukan hanya persoalan materi tetapi nyawa yang terancam.

"Demi keselamatan warga kami disini, tolonglah keteledoran dan kecerobohan yang dilakukan oleh perusahaan jangan sampai terulang kembali seperti ini lagi," katanya.

215 Jiwa Warga Terdampak 

Pemerintah Kabupaten Purwakarta melalui Dinas Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran mencatat sebanyak ratusan jiwa warga yang mendiami di Kampung Cihandeuleum, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru terdampak ledakan tebing dari lokasi pertambangan batu.

Kepala Dinas Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Purwakarta, Wahyu Wibisono mengatakan jumlah korban terdampak hujan batu di Purwakarta sebanyak 215 jiwa. Jumlah itu berasal dari 68 kepala keluarga.

"Sampai hari ini, kami masih melakukan langkah-langkah penanganan," ujar Wahyu, melalui ponselnya, di Kabupaten Purwakarta, Rabu (9/10/2019).

Menurutnya, peristiwa tersebut diakibatkan oleh adanya kegiatan pertambangan "blasting" atau peledakan batu. Kegiatan tersebut dilakukan oleh PT. MMS pada pukul 12.30 WIB, kemarin.

"Hasil pengecekan kami di lapangan dan berdasarkan keterangan saksi batu itu bergerak dari ketinggian 500 meter dari permukiman warga. Kami masih terus pantau semuanya," katanya.

Sementara itu, informasi yang dihimpun Tribun Jabar di lapangan, dua rumah warga mengalami kerusakan berat. Dari peristiwa tersebut yakni rumah Dodi Dores hampir keseluruhan hancur, hanya tersisa pada bagian depannya saja. Bahkan, sebuah batu berukuran cukup besar tergeletak dibagian belakang rumahnya.

Sedangkan satu rumah lagi hampir serupa. Satu batu berukuran besar menimpa rumah tersebut. Kini, penghuni rumah tersebut tengah mengungsi. Sedangkan puluhan rumah, dan sekolah hanya mengalami kerusakan ringan.

PT MSS Sebut Musibah

PT. MSS, pihak yang bertanggung jawab saat proses "Blasting" atau peledakan batu sehingga mengakibatkan kerusakan ringan hingga parah di Kampung Cihandeleum RT.09/05, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru menyampaikan bahwa peristiwa yang terjadi itu sebuah musibah.

Direktur Tehnik, PT. MSS, Bambang Yudhaka mengatakan akibat peristiwa yang menyebabkan kerugian materi dan psikologis ini pihaknya merasa khawatir. Hasil musyawarah pun nantinya akan disampaikan kepada perusaahaan tempatnya bekerja.

"Tadi yang dibilang bapak-bapak akan saya sampaikan. Yang jelas rumah-rumah akan kami selesaikan, sudah pasti, jangan takut. Saya juga tidak ingin musibah. Kami bicara win-win solutions, sama-sama senang," ujar Bambang, di sekolah Raudhatul Athfal Al-Huda, Kabupaten Purwakarta, Rabu (9/10/2019).

Direktur Tehnik, PT. MSS, Bambang Yudhaka saat hadir musyawarah bersama puluhan warga di sekolah Raudhatul Athfal Al-Huda, Kabupaten Purwakarta, Rabu (9/10/2019). (Tribun Jabar/Ery Chandra)
Lantas tak berselang lama perwakilan puluhan warga, Dodi Dores (37) menginterupsi pembicaraan perwakilan PT. MSS tersebut. Dia membantah yang disampaikan merupakan sebuah musibah.

"Itu bukan sepenuhnya pure musibah pak, itu keteledoran. Cara "blastingnya" sudah dekat dengan permukiman masyarakat," katanya dijawab setuju puluhan orang yang hadir musyawarah.

Direktur Tehnik, PT. MSS, Bambang Yudhaka saat hadir musyawarah bersama puluhan warga di sekolah Raudhatul Athfal Al-Huda, Kabupaten Purwakarta, Rabu (9/10/2019). (Tribun Jabar/Ery Chandra)
Menurutnya, apabila PT. MSS sebelum mengerjakan pekerjaan itu mempunyai rasa iba kepada warga maka peristiwa keteledoran tersebut tidak akan terjadi.

"Kan kalau mau blasting masih banyak titik lainnya. Kenapa ini harus dekat dengan warga. Jadi diralat, mohon maaf dari kami sebelumnya itu bukan musibah tapi keteledoran," ujarnya.

Menanggapi pandangan warga tersebut, Bambang menyampaikan persoalan itu intinya akan diselesaikan dengan cara baik-baik.

"Tujuan saya adalah untuk sama-sama menikmati gunung ini harusnya. Penghasilan buat kami, tapi kalau seandainya ada opsi lain akan saya sampaikan," katanya. (sam)

LIHAT SUMBER DOWNLOAD BACA PLUS, ADA HADIAHNYA!