Sebuah batu raksasa menggelinding dari atas Gunung Miun dan menimpa sejumlah rumah di Kampung Cihandeleum, Desa Sukamulya, Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Selasa 8 Oktober 2019.

Menurut Kapolres Purwakarta AKBP Matrius, batu itu diduga menggelinding akibat peledakan batu (blasting) di tambang batu andesit milik PT Mandiri Sejahtera Sentra (MSS).

Berikut 5 fakta terkait insiden tersebut:

1. Timpa 7 Rumah dan 1 Madrasah

AKBP Matrius menyebut, batu tersebut menggelinding dan menimpa 7 rumah dan satu bangunan madrasah. Namun, tidak ada korban jiwa akibat kejadian ini.

Letak geografis Desa Sukamulya berada di lembah pegunungan Miun yang rawan longsor. Lokasi permukiman warga itu hanya sepelemparan batu pertambangan kapur dan andesit PT MSS.

2. Tim Investigasi

Polres Purwakarta membentuk tim investigasi untuk mencari dugaan pidana kelalaian PT MSS, saat proses peledakan atau blasting menambang kapur di Gunung Miun. Proses itu diduga memicu menggelindingnya batu raksasa tersebut.

"Jika ada pelanggaran, tentunya akan diproses secara hukum," tegas AKBP Matrius.
Polisi langsung menggelar olah TKP dan mengumpulkan sejumlah barang bukti dan meminta keterangan dari saksi.

3. Suara Ledakan

Sebelum batu tersebut menggelinding ke pemukiman, sejumlah warga Desa Sukamulya mengaku sempat mendengar ledakan. Namun, awalnya warga setempat tidak terlalu heran karena hal itu sudah cukup sering terdengar.

"Kalau suara ledakan sebenarnya itu sering didengar, karena kita tahu ada kegiatan pertambangan," kata Asep, salah seorang warga Desa Sukamulya, di Purwakarta.

Warga baru kaget setelah sebuah bongkahan batu raksasa menggelinding. Kejadian itu terjadi tak lama setelah suara ledakan terdengar.

Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika mendesak Pemprov Jabar meninjau ulang pertambangan dengan bahan peledak. Menurut Anne, pihaknya juga sudah bersurat resmi dengan Pemprov Jabar.

"Perusahaan itu dianggap sudah merugikan masyarakat dengan kelalaiannya di lokasi pertambangan," ujarnya.

4. PT MSS Akan Beri Kompensasi

Terkait insiden itu, PT MSS berjanji akan memberikan kompensasi kepada warga yang rumahnya terdampak. Perusahaan itu juga mengaku akan bertanggung jawab atas insiden menggelindingnya batu raksasa dari atas Gunung Miun.

Manajer Teknik PT MSS Bambang Yuda, saat berdialog dengan warga, mengakui insiden itu berawal dari aktivitas blasting perusahaannya.

"Proses peledakan tersebut sudah berjalan sesuai prosedur, cuma juga tidak menyangka, yang kita tembak itu jauh dari lokasi menggelindingnya batu, tapi ternyata bebatuan yang di lereng lainnya ikut runtuh dan akhirnya jatuh ke permukiman warga," ujar Bambang.

5. Musim Kemarau

Bambang Yuda menyebut, musim kemarau disebut sebagai salah satu penyebab runtuhnya bebatuan tersebut. Efek ledakan, menurut Bambang Yuda, membuat komposisi dan struktur bebatuan yang ada di Gunung Miun terganggu.

"Kalau musim kemarau tanah kering jadi bebatuan yang menempel di lereng tidak kuat. Akibatnya, berdampak sampai jatuh ke permukiman warga," jelas dia.

Penulis : Yasmin Fitrida


Bagikan artikel ini