< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Download Baca Plus dan menangkan hadiah!
closeDownload
share icon

Populasi Elang Jawa di Gunung Ciremai Terus Bertambah, Kini Capai 29 Ekor

Rmol.

 

KUNINGAN, – Populasi satwa langka elang jawa di Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, terus bertambah.

Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) mencatat, hingga Oktober 2019, ada 29 ekor elang jawa.

Kepala BTNGC Kuswandono menyampaikan, perkembangan populasi hewan dengan kategori terancam punah itu menunjukan kabar baik.

Kuswandono menunjukkan tabel hasil penelitian yang dibuat tim spesialis elang jawa BTNGC.

Di tahun 2015, ada 19 ekor elang jawa yang terdata. Jumlah itu meningkat mencapai 29 ekor pada Oktober 2019. Dalam kurun waktu lima tahun, ada penambahan sebanyak 10 ekor elang jawa.

“Perkembangan populasi elang jawa itu berada di sepuluh titik pemantauan. Enam titik pemantauan berada di Kabupaten Kuningan, dan empat titik pemantauan lainnya berada di Kabupaten Majalengka,” kata Kuswandono kepada Kompas.com di kantor BTNGC Selasa (8/10/2019).

Pria yang baru berusia genap 50 itu optimistis, populasi elang jawa di Gunung Ciremai akan terus bertambah.

Penambahan itu dapat berasal dari perkembangbiakan dan juga berasal dari luar titik pemantauan yang belum terdata.

Perkembangan populasi elang jawa yang cukup signifikan itu, kata Kus, menjadi indikasi bahwa Gunung Ciremai memiliki daya dukung habitat elang jawa yang bagus.

Sejumlah hewan yang menjadi mangsanya juga tersedia, antara lain: tupai, burung puyuh, tikur, ular, kadal, dan lainnya.

Pria yang berasal dari Magetan Jawa Timur ini menjelaskan, elang jawa memiliki nama latin Nisaetus bartelsi.

Habitatnya tersebar di seluruh hutan pulau jawa. Elang jawa memiliki peran penting dalam menjaga dan mengendalikan ekosistem hutan.

Iwan Sunandi (46), fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) BTNGC menyampaikan, elang jawa mulai terpantau di Gunung Ciremai sejak tahun 2011.

Saat itu, elang jawa berada di kawasan Blok Cilengkrang, Desa Pajambon, Kecamatan Kramat Mulya atau sekitar 600 meter di bawah permukaan laut.

Sejak saat itu, Iwan bersama tim PEH BTNGC serta masyarakat sekitar fokus melakukan pemantauan terhadap elang jawa.

Pemantauan dilakukan dengan berbagai cara, antara lain perjumpaan, penggunaan teropong binokuler, teropong monokuler, kamera, dan juga lainnya.

“Proses pemantauan dilakukan tiap bulan dan juga tiap tahun. Waktunya di pagi hari, sekitar pukul 09.00 hingga sekitar 13.00 WIB. Tiap kali pemantauan, tim membutuhkan waktu sekitar lima hari,” kata Iwan salah satu tim spesialis Elang Jawa BTNGC.

Pria yang bertugas di BTNGC sejak tahun 2007 itu menyebut, ada delapan jenis elang yang ditemukan selama pengamatan selain elang jawa.

Kedelapan jenis elang itu antara lain, elang brontok, elang ular bido, elang sikep madu asia, elang hitam, elang alap cina, elang alap sapi, elang alap kawah, dan elang alap nipon.

Elang jawa termasuk dalam Keputusan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor SK. 180/IV-KKH/2015 tentang penetapan 25 satwa terancam punah prioritas untuk ditingkatkan populasinya sebesar 10 persen pada tahun 2015-2019.

LIHAT SUMBER DOWNLOAD BACA PLUS, ADA HADIAHNYA!