< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Download Baca Plus dan menangkan hadiah!
closeDownload
share icon

Rencana Ijtima Ulama IV, Akankah Prabowo Kehilangan Dukungan PA 212?

Okezone

PERSAUDARAAN Alumni (PA) 212 berencana menggelar Ijtima Ulama IV untuk menentukan sikap pasca-pertemuan Prabowo Subianto dengan Joko Widodo, meski pengamat memperkirakan kelompok tersebut tidak akan meninggalkan Prabowo karena adanya keterkaitan kepentingan.

Juru Bicara PA 212, Novel Bamukmin, mengatakan Ijtima Ulama IV rencananya digelar pada awal Agustus.

"Kita harus mengadakan musyawarah atau mengambil keputusan atas sikap politik Prabowo. Kita bersama atau sudah selesai urusan kita? Itu harus disikapi," ujar Novel.

Ia menyayangkan pertemuan Prabowo dan Jokowi yang tidak didahului komunikasi dengan PA 212, kelompok yang mulai melakukan pergerakan sejak kasus tuduhan penistaan agama membelit mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), pada 2016.

Jokowi dan Prabowo bertemu untuk pertama kalinya sejak pemungutan suara pada Rabu 17 April 2019. Pertemuan dilakukan di Stasiun MRT Lebak Bulus pada Sabtu 13 Juli. Dalam pertemuan itu Prabowo mengatakan "selamat bekerja" kepada Jokowi.

Novel mengatakan, sejak Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan sengketa pilpres, Prabowo belum berkomunikasi dengan PA 212. "Kok nyelonong (bertemu Jokowi) tanpa ada komunikasi dengan kita?" ucapnya.

Sementara politikus Partai Gerindra, Andre Rosiade, mengatakan Prabowo akan segera bertemu seluruh pendukung dan relawan untuk membahas pertemuannya dengan Jokowi.

Andre menegaskan pertemuan Jokowi-Prabowo tidak diikuti kesepakatan-kesepakatan politik tertentu, seperti penentuan menteri-menteri dalam kabinet.

"Kemarin itu pertemuan kebangsaan. Dua negarawan bertemu dalam rangka menurunkan tensi dan polarisasi agar Indonesia guyub kembali," jelas Andre.

Apa yang Akan Dibahas di Ijtima Ulama IV?

Novel menyebut Ijtima Ulama IV akan membahas sejumlah hal yang terjadi semasa pemilu, seperti demo 22 Mei hingga putusan MK.

Selain itu, lanjut dia, akan dibahas pula soal sejumlah petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) yang meninggal dunia, hingga pemidanaan sejumlah pihak pendukung Prabowo —yang dicurigainya sebagai bentuk kriminalisasi ulama.

Novel menambahkan, PA 212 akan menilai sikap partai-partai yang bergabung dalam Koalisi Adil dan Makmur yang mendukung Prabowo-Sandi saat pilpres.

"Kita melihat ke depan siapa yang bisa bersama dengan kita untuk memperjuangkan keadilan," ujar Novel.

Pertemuan Jokowi-Prabowo di MRT. (Foto: Muchlis Jr/Biro Prrs Setpres)

Muncul Gerakan #KamiOposisi dari PKS

Mardani Ali Sera, politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), sekutu Partai Gerindra dalam pilpres lalu, menyatakan komunikasi politik dan silaturahmi adalah hal yang baik. Namun, kata dia, yang sebelumnya mencanangkan gerakan #2019GantiPresiden, sikap berbeda juga baik untuk mendidik masyarakat untuk tetap rasional.

"Karena itu, saya pribadi berharap saat pertemuan ada sikap tegas menyatakan #KamiOposisi. Oposisi itu baik karena energi pendukung Pak Prabowo dapat tersalurkan secara positif," ujar Mardani dalam pesan tertulisnya.

Ia mendukung diadakannya ijtima ulama. "Akan baik jika ijtima ulama bisa tegas menyatakan diri #KamiOposisi dan membuat road map penguatan umat lima tahun ke depan hingga siap mengikuti kontestasi 2024," katanya.

Pertemuan Jokowi-Prabowo di MRT. (Foto: Ist)

Dukungan PA 212 Masih Penting untuk Prabowo

Pengamat politik dari Puskapol Universitas Indonesia, Delia Wildianti, menyebut Prabowo akan tetap mencoba mengakomodasi kepentingan ulama dan PA 212 yang memberi dukungan sangat besar padanya saat pilpres lalu.

Kelompok tersebut sebelumnya aktif berunjuk rasa menuntut pasangan calon Jokowi-Ma'ruf Amin didiskualifikasi dari Pilpres 2019 saat sidang sengketa pilpres di MK berlangsung.

Delia menyebut PA 212 adalah basis pendukung Prabowo yang kuat dan dianggap penting karena terdiri dari ulama-ulama sehingga mampu memengaruhi masyarakat.

Pertemuan Jokowi-Prabowo di MRT. (Foto: Ist)

Dukungan massa Muslim itu, ujar dia, sangat penting untuk Prabowo dan juga partainya Gerindra, kala memutuskan menjadi oposisi pemerintah. Misalnya, saat Gerindra beradu soal kebijakan di parlemen dengan partai pendukung pemerintah.

"Kalau sampai (PA 212) meninggalkan (Prabowo), saya rasa tidak sampai ke situ, karena Prabowo juga pastinya akan mencoba untuk mengakomodasi banyak kepentingan tadi yang harus dia selamatkan," kata Delia.

Ia menilai saat pilpres lalu, kedua belah pihak, yakni kubu Prabowo dan PA 212, saling memanfaatkan momentum. Prabowo, ujar Delia, membutuhkan dukungan massa yang besar.

Di sisi lain, lanjut dia, kelompok PA 212 memiliki beberapa kepentingan yang tidak dapat diakomodasi kubu Jokowi, seperti pemulangan pemimpin FPI, Habib Rizieq Shihab, ke Indonesia.

Jokowi-Prabowo menutup pertemuan dengan makan siang di Senayan. (Foto: Muchlis Jr/Biro Pers Setpres)

Oleh karena itu, ujar Delia, mereka menyatakan dukungan ke Prabowo dan politik identitas menjadi sangat kuat pada Pilpres 2019.

"Kalau mereka (PA 212) dikatakan berpolitik, ya berpolitik, karena mereka berkepentingan, dan kepentingan itu dititipkan pada kontestan pemilu," ujarnya.

(han)

LIHAT SUMBER DOWNLOAD BACA PLUS, ADA HADIAHNYA!

Komentar Teratas

Kunjungi app